Kompas.com - 22/01/2019, 20:03 WIB
Pisang dan mangga. ShutterstockPisang dan mangga.


KOMPAS.com - Tanaman pisang sebenarnya sudah dibudidayakan di Pulau Jeju, sebelah selatan Korsel. Namun, sebagaimana dilaporkan harian Kyunghyang Sinmun, sejumlah petani di berbagai daerah lain ikut menanam pisang dan sukses.

Beberapa pakar pertanian di Heunghae, sebelah tenggara Korsel, mengatakan pembudidayaan berjalan mulus tahun lalu sehingga para petani diperkirakan bisa memanen pada pertengahan Maret mendatang.

Adapun para petani di Distrik Taean, barat daya Korsel, berharap dapat memanen pada Februari.

Baik pakar di Heunghae maupun Distrik Taean sepakat bahwa faktor kesuksesan pembudidayaan pisang di daerah mereka adalah pemanasan global.

Baca juga: 2030, Ratusan Ribu Orang Akan Meninggal karena Perubahan Iklim

Ke depan, seperti dilaporkan harian Kyunghyang Sinmun, Departemen Pengembangan Pedesaan memperkirakan wilayah negeri yang dikategorikan beriklim sub-tropis bertambah dari 10,1% pada 2020 menjadi 26,6% pada 2060, dan meningkat hingga 62,3% pada 2080.

Dampak pemanasan global?

Selama bertahun-tahun para petani bereksperimen menanam pisang dan buah-buah lain di rumah kaca, tapi perubahan-perubahan signifikan terjadi ketika bunga pada tanaman pisang di Heunghae muncul pada November lalu.

Para petani juga melihat kualitas pisang yang mereka tanam meningkat. Salah satu buktinya kandungan gula pada pisang yang mereka tanam lebih tinggi dari pisang impor. Selain itu, potensi jumlah panen mereka bertambah banyak.

"Kami memprediksi dapat memanen 50 kilogram buah dari setiap pohon dari biasanya 30-35 kilogram," kata seorang petani kepada harian Kyunghyang Shinmun.

Hal ini dilihat pemerintah setempat sebagai peluang besar merevitalisasi perekonomian daerah, sebut harian JoongAng Ilbo.

Badan pengembangan pertanian di Distrik Haenam sedang bereksperimen untuk membudidayakan pisang, mangga, hingga kopi.

Baca juga: Macam-macam Kematangan Buah Pisang dan Manfaatnya

Akan tetapi, tidak semua orang gembira dengan berkembangnya pertanian Korsel akibat perubahan iklim.

"Tidak yakin apakah ini menakjubkan atau mengerikan," ucap T.K yang menulis blog Ask a Korean!, mengaku

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.