Gara-gara Pemanasan Global, Sumber Pangan di Samudra Arktik Kabur

Kompas.com - 22/01/2019, 17:01 WIB
Krill Antartika (Euphausia superba), merupakan udang kecil berukuran 8 sampai 60 mm. Mereka biasanya ditemukan pada grup besar, dengan lebih dari 10.000 krill per meter kubik dan menjadi pangan penting bagi banyak hewan termasuk burung, paus, cumi-cumi dan hiu paus. Krill Antartika (Euphausia superba), merupakan udang kecil berukuran 8 sampai 60 mm. Mereka biasanya ditemukan pada grup besar, dengan lebih dari 10.000 krill per meter kubik dan menjadi pangan penting bagi banyak hewan termasuk burung, paus, cumi-cumi dan hiu paus.


KOMPAS.com - Krill adalah udang kecil yang suka bergerombol dalam jumlah besar dan menjadi makanan utama bagi ikan paus, penguin, burung laut, anjing laut, dan ikan lainnya.

Namun karena pemanasan global dalam beberapa dekade terakhir, kondisi kutub membuat para krill berkontraksi dan pergi.

Para ahli dengan tegas memperingatkan, jika masalah ini tidak segera ditangani maka akan muncul dampak negatif bagi ekosistem.

Beberapa bukti menyebutkan penguin dan anjing laut berbulu mulai kesulitan mendapatkan krill. Hal ini membuat bayang-bayang menurunnya populasi karena kelaparan makin nyata.

Baca juga: Tanaman di Arktik Tumbuh Lebih Tinggi, Ini Artinya bagi Bumi

"Studi kami menunjukkan bahwa dalam 40 tahun terakhir jumlah krill menurun drastis dan banyak dari mereka (krill) ditemukan jauh dari habitatnya," kata Simeon Hill dari Survei Antartika Inggris, dilansir BBC News, Selasa (22/1/2019).

"Ini menunjukkan semua hewan yang makan krill akan menghadapi persaingan yang lebih keras demi bisa mengisi perut," imbuhnya.

Studi yang dilaporkan dalam  jurnal Nature Climate Change dengan judul "Distribusi Krill (Euphausia superba) menjauhi Antartika selama pemanasan global bergerak cepat", fokus mengamati Laut Scotia dan Semenanjung Antartika, di mana jumlah krustasea paling melimpah.

Hill dan koleganya mengamati jumlah Krill di sana berdasar data sejak 1920-an. Saat itu data digunakan untuk memahami konsekuensi lingkungan dari perburuan paus komersial. Namun berbagai informasi terus dikumpulkan hingga saat ini.

Dari situ mereka menemukan, distribusi kepadatan krustasea mulai mengalami penurunan di akhir 1980-an. Jika merunut sejarah, hal ini bertepatan dengan perubahan fase dalam osilasi iklim yang dikenal sebagai Mode Annular Selatan (SAM).

SAM pada dasarnya menggambarkan pola dominan zona tekanan di belahan bumi selatan di luar daerah tropis.

Pergantian mode dalam keadaan di akhir 1980-an membuat cuaca lebih hangat, lebih berawan, berangin, dan lebis sedikit es laut di daerah tempat krill suka berkumpul.

Tahap larva krustasea punya kaitan erat dengan keberadaan habitat es laut.

Analisis tim Hill menunjukkan, pusat distribusi Krill sudah berpindah ke lingkungan yang lebih nyaman, yakni sekitar 440 kilometer ke selatan menuju benua Antartika.

"Ukuran rata-rata krill lebih memanjang selama periode waktu ini. Ini mungkin karena populasinya kini dimangsa hewan yang lebih besar," imbuh Hill.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Bom Waktu di Bawah Samudra Arktik

Margaret McBride dari Institut Penelitian Kelautan Norwegia di Bergen pernah menuliskan komentar tentang studi dengan tema yang sama.

Saat itu McBride memprediksi bahwa krill akan bergerak ke selatan di masa depan. Sementara studi ini telah menunjukkan bahwa proses itu sebenarnya sudah berlangsung.

"Ini menawarkan akhir cerita yang sangat merugikan tapi juga masuk akal untuk krill Antartika yang punya implikasi penting bagi jaring makanan Samudra Selatan dan manajemen perikanan berkelanjutan yang menargetkan spesies ini," tulis McBride.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X