Studi Baru: Planet Sembilan Mungkin Bukan Planet Seutuhnya

Kompas.com - 22/01/2019, 12:32 WIB
Ilustrasi Planet Sembilan yang memunggungi matahari. Ilustrasi Planet Sembilan yang memunggungi matahari.

KOMPAS.com - Beberapa tahun belakangan, para ahli meyakini ada planet kesembilan di pinggiran tata surya.

Jaraknya dari Bumi sangat jauh, mungkin sekitar sepuluh sampai 20 kali lebih jauh dari Pluto. Banyak orang meyakini planet kesembilan itu berukuran sepuluh kali lipat dibanding Bumi, karena bisa memengaruhi gaya gravitasi objek lain di sekitarnya.

Namun benarkah planet kesembilan itu nyata? Mengapa ia bersembunyi sangat lama dari pandangan kita?

Semua pertanyaan itu mungkin bisa dijawab dalam laporan yang terbit di Astronomical Journal edisi Minggu (20/1/2019) atau dapat diakses secara online di arXiv.org.

Baca juga: Ilmuwan Ungkap Alasan Kenapa Planet Sembilan Belum Ditemukan

Alih-alih membahas keberadaan planet kesembilan, laporan itu agaknya menyarankan kita untuk berhenti menganggap bahwa benda yang diyakini sebagai Planet Sembilan berukuran raksasa.

Sebaliknya, mereka meyakini bahwa itu adalah sekumpulan objek luar angkasa berukuran lebih kecil yang berkolaborasi menciptakan gaya gravitasi seperti yang diciptakan sebuah benda raksasa.

"Saya suka isi laporannya. Ini pertama kalinya ada yang mengusulkan hal lain tentang Planet Sembilan. Saya tidak mengatakan penjelasannya benar, tapi mungkin fisika akan sangat bisa diandalkan untuk menjelaskan apa yang kita lihat," kata astronom Caltech, Mike Brown, yang tidak terlibat dalam studi tapi telah meneliti karakkteristik Planet Sembilan.

Melansir Popular Science, Senin (21/1/2019), sabuk kuiper (wilayah di luar Neptunus) diselimuti oleh es dan batu kecil yang berasal dari masa awal pembentukan tata surya.

Banyak dari Objek trans-Neptunus (TNO) bergerak dalam orbit yang sangat tidak biasa di sekitar matahari.

Beberapa di antaranya dapat dijelaskan oleh pengaruh benda langit yang lebih besar seperti Neptunus.

Namun beberapa orbit juga membutuhkan penjelasan ilmiah lain, misalnya beberapa objek tersembunyi yang mampu memengaruhi gravitasi.

Jihad Touma, seorang ilmuwan dari American University of Beirut yang terlibat dalam studi ini menjelaskan, ada beberapa kekurangan pada benda yang selama ini diyakini sebagai Planet Sembilan untuk disebut planet.

Terutama, benda itu tidak memperhitungkan tarikan gravitasi dari planet lain di tata surya dan beberapa orbit TNO yang dimaksud nampak terlaku eksentrik untuk dipengaruhi oleh satu objek.

"Lalu kami masih benar-benar bingung tentang asal usul planet raksasa seperti ini dan bagaimana ia berakhir di tempat terpencil di tata surya," ujar Touma.

Hingga akhirnya Touma dan koleganya Antranik Sefilian, memperkirakan bagaimana jika massa Planet Sembilan menyebar.

Alhasil, pasangan itu membawa model sabuk Kuiper berisi ribuan TNO es pada skala kurang dari 100 kilometer dengan diameter yang seukuran planet kerdil, Sedna. Semuanya tersebar di bidang orbit yang sama di sistem tata surya.

Dalam makalahnya, mereka menunjukkan ada enam objek di Sabuk Kuiper memiliki orbit elips yang mengarah ke arah yang sama dan dipengaruhi TNO, bukan planet raksasa.

Model yang disajikan Touma dan koleganya bukan bermaksud ingin menghapus keberadaan planet tambahan. Namun mereka ingin mengesampingkan kemungkinan bahwa planet itu mungkin tidak berukuran raksasa seperti yang selama ini diprediksi.

"Ini bukan masalah percaya atau tidak soal Planet Sembilan. Ini lebih merupakaan gagasan tentang 'produk sampingan' dari pembentukan tata surya," ujarnya.

"Kami berpikir daripada terus memusatkan perhatian pada planet kesembilan, mengapa tidak menjelaskan gravitasi benda-benda kecil yang membentuk cakram di luar orbit Neptunus," kata Sefilian, dilansir Fox News, Senin (21/1/2019).

Baca juga: NASA Temukan Planet Baru yang Berukuran 2 Kali Lebih Besar dari Bumi

Menurut Space.com, perburuan dan studi tentang Planet Sembilan dimulai dengan sungguh-sungguh sejak 2014. Tahun itu, para astronom Chad Trujilo dan Scott Sheppard mengusulkan keberadaan objek besar yang bersembunyi di luar Neptunus. Pengaruh gravitasinya diyakini dapat menjelaskan keanehan dalam orbit objek yang jauh seperti planet Sedna dan VP113 2012.

Pada Januari 2016, Konstantin Batygin dan Mike Brown berkontribusi pada lebih banyak bukti dan mengumumkan bahwa TNO juga berperan dalam jejak gravitasi ini.

Batygin dan Brown memperkirakan benda ini berukuran sepuluh kali lebih masif dari Bumi dan terletak sekitar 600 unit astronomi (AU) dari matahari. Satu AU adalah jarak Bumi ke Matahari, sekitar 150 juta kilometer.



Close Ads X