Kompas.com - 17/01/2019, 20:06 WIB
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto (kiri) didampingi calon Wakil Presiden Sandiaga Uno (kanan) menyampaikan pidato kebangsaan di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (14/1/2019). Prabowo-Sandiaga menyampaikan pidato kebangsaan dengan tema Indonesia Menang yang merupakan tagline visi dan misinya. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/ama ANTARA/GALIH PRADIPTACalon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto (kiri) didampingi calon Wakil Presiden Sandiaga Uno (kanan) menyampaikan pidato kebangsaan di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (14/1/2019). Prabowo-Sandiaga menyampaikan pidato kebangsaan dengan tema Indonesia Menang yang merupakan tagline visi dan misinya. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/ama

KOMPAS.com - Sejak awal minggu ini, pidato Calon Presiden Prabowo Subianto menjadi perbincangan hangat. Salah satu alasannya adalah Prabowo tidak menggunakan teks dalam pidatonya.

Namun, menurut Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Johnny G Plate dalam pidato tersebut Prabowo dibantu dengan telepromter.

"Kalau semalam yang kita lihat adalah kosmetik, kenapa itu retorika kosmetik? Karena seolah-olah dalam satu retorika yamg hebat tapi sebenarnya baca teks. Baca teksnya di mana? Baca teksnya di teleprompter," ujar Johnny di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (15/1/2019).

Penggunaan teleprompter dalam pidato para politisi sebenarnya bukan baru kali ini saja dilakukan.

Baca juga: Penemuan yang Mengubah Dunia: Surat Suara, dari Tembikar hingga Kertas Dicoblos

Sebut saja mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mantan wakil Presiden Boediono, hingga politisi Abu Rizal Bakrie juga diketahui beberapa kali menggunakan teleprompter dalam pidatonya.

Sama seperti yang banyak diperbincangkan kini, teleprompter mulai terkenal juga berkaitan dengan pidato politik.

Dikenal karena Politik

Sekitar tahun 1952, pencipta teleprompter Hubert Schlafy menerima panggilan telepon yang memintanya untuk pergi ke sebuah hotel mewah di New York City.

Namun, Schlafy diminta tak datang dengan tangan kosong melainkan membawa "gawai" ciptaannya. Di sana dia bertemu dengan Herbert Hoover, Mantan Presiden AS yang bersiap untuk memberikan pidato dalam konvensi Partai Republik.

Hoover saat itu cukup khawatir tak dapat mengingat kata-katanya di depan kamera.
Untuk itu, dia membutuhkan sebuah senjata rahasia. Ya, itu adalah teleprompter.

Ketika melihat cara kerja teleprompter, Hoover segera memahami kemungkinan penggunaan alat ini dalam bidang politik.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.