7 Orang Jadi Korban, Bagaimana Sengatan Tawon Ndas Membunuh Manusia?

Kompas.com - 11/01/2019, 19:41 WIB
Tawon Vespa Affinis atau Hornet. Tawon Vespa Affinis atau Hornet.

Sayangnya, efek-efek di atas baru terlihat setelah dua hingga tiga hari disengat sehingga para petugas medis yang belum terlatih untuk menangani kasus sengatan tawon akan melewatkannya. Pasien V affinis pun sering kali hanya diberi obat rawat jalan dan kemudian disuruh pulang tanpa penanganan lebih lanjut

Tri berkata bahwa ilmu toksinologi memang masih terabaikan di Indonesia. Pada saat ini, ahli toksinologi di Indonesia hanya dirinya saja.

Hal tersebut semakin terbukti ketika Tri yang juga penasihat kasus gigitan ular untuk Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan kasus serangan V affinis ke tingkat Asia.

Vespa affinis ini kalau di luar negeri, gigitannya jarang yang sampai begitu banyak. Paling satu tahun itu hanya menggigit dua atau tiga orang dan yang meninggal hanya satu. Jarang ada yang seperti kita ini, dalam beberapa bulan meninggal tujuh orang,” ujar Tri.

Oleh karena itu, Tri pun berpendapat bahwa seharusnya serangan tawon V affinis ini sudah termasuk Kejadian Luar Biasa (KLB).

Selain itu, serangan kali ini juga harus menjadi panggilan agar pemerintah Indonesia lebih serius dalam mendukung penelitian terhadap racun dan antivenom. Secara khusus, Tri mengusulkan untuk menciptakan program nasional dalam penanganan kasus-kasus semacam ini.

Baca juga: Gara-gara Buah Busuk, Inggris Diserang Tawon Mabuk

Pasalnya, Indonesia memiliki kondisi geografis dan kekayaan hayati yang unik. Selain tawon dan ular, Indonesia juga memiliki banyak hewan lain yang beracun, misalnya belalang, ulat bulu, dan ubur-ubur. Hewan-hewan ini belum tentu sama dengan yang di luar negeri sehingga antivenomnya pun bisa jadi berbeda.

Akan tetapi, belum banyak ahli yang tahu dan bisa membuat antivenom di Indonesia. Perusahaan farmasi yang ada sekarang pun tidak bisa mengatasi karena harus fokus dalam membuat vaksin.

“Jadi, saran saya adalah Indonesia harus membuat pabrik baru khusus untuk venom ini dan merekrut peneliti untuk membuat antivenomnya,” ujar Tri.

Selain itu, Tri juga mengharapkan adanya Pusat Racun atau Poison Center di Indonesia untuk mewadahi para ahli yang tertarik dengan bidang ini. Poison Center akan menjadi universitas, rumah sakit dan pusat riset untuk menangani racun-racun hewan di Indonesia.

“Kita punya rumah sakit untuk infeksi, rumah sakit untuk jantung, tapi rumah sakit untuk toksinologi itu belum ada. Padahal kita ini butuh rumah sakit toksinologi. Karena kalau ada kasus begini, kita rujuk ke mana? Kan rumah sakit olahraga juga ada, jadi harusnya sudah waktunya kita punya rumah sakit toksinologi ini,” ujarnya.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X