7 Orang Jadi Korban, Bagaimana Sengatan Tawon Ndas Membunuh Manusia?

Kompas.com - 11/01/2019, 19:41 WIB
Tawon Vespa Affinis atau Hornet. Tawon Vespa Affinis atau Hornet.

KOMPAS.com – Dalam dua tahun terakhir ini, sebanyak tujuh warga Kabupaten Klaten telah merenggang nyawa karena diserang tawon ndas atau Vespa affinis.

Kepada Kompas.com, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Klaten Nur Khodik berkata bahwa seseorang yang tersengat tawon V affinis bisa meninggal bila tidak ditangani dalam 1 x 24 jam.

Namun, bagaimana sengatan tawon bisa membuat seseorang meninggal? Untuk menjawab pertanyaan ini, Kompas.com menghubungi Dr dr Tri Maharani, M.Si SP.EM, seorang pakar toksinologi via telepon pada Jumat (11/1/2019).

Dia menjelaskan bahwa V affinis bukanlah tawon madu, melainkan tawon predator. Tawon ini memiliki kemampuan untuk memasukkan racunnya ke dalam tubuh manusia.

Pada dosis kecil, yakni ketika yang menyengat hanya satu atau dua ekor tawon, racun V affinis hanya akan menimbulkan alergi saja dengan gejala-gejala seperti bengkak.

Baca juga: Mengenal Tawon Ndas yang Tewaskan 7 Orang di Klaten

Penanganannya pun cukup sederhana. Bagian yang bengkak perlu dikompres dengan es atau kalau tersisa sengatannya, bisa dicabut. Lalu, pasien diberikan analgesik dan obat-obatan antihistamin atau corticosteroid sampai pembengkakan berkurang.

“Tapi sengatan sedikit ini juga jarang. Karena ketika seseorang itu merusak sarang (tawon), maka yang marah kan tidak mungkin cuma satu, tetapi satu rombongan yang isinya bisa puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan tawon,” katanya.

Bila tawon yang menyengat berjumlah banyak, maka hal ini bisa menyebabkan hiperalergi yang jika tidak ditangani akan berlanjut menjadi anafileksis hingga sistemik atau merusak organ hanya dalam hitungan hari.

Efek yang paling fatal adalah menyebabkan edema paru akut atau kondisi di mana terjadi penumpukan cairan di paru-paru yang membuat pasien kesulitan bernapas. Selain itu, efek fatal lain yang paling umum terjadi adalah gagal ginjal akut di mana fungsi ginjal menurun.

Oleh karena itu, dibutuhkan ketanggapan petugas medis untuk menangani kasus sengatan V affinis berat. Pasien yang mengalami edema paru akut, misalnya, harus diberikan tatalaksana edema paru, seperti cairan parunya dikeluarkan. Sementara itu, pasien yang mengalami gagal ginjal harus diberikan tatalaksana gagal ginjal, seperti hemodialisis.

Bila penanganan gawat darurat yang tepat diberikan, pasien sengatan V affinis pun bisa tetap hidup.

Baca juga: Jangan Anggap Negatif, Tawon Juga Berperan Penting untuk Lingkungan

Ilmu toksinologi yang langka di Indonesia

Sayangnya, efek-efek di atas baru terlihat setelah dua hingga tiga hari disengat sehingga para petugas medis yang belum terlatih untuk menangani kasus sengatan tawon akan melewatkannya. Pasien V affinis pun sering kali hanya diberi obat rawat jalan dan kemudian disuruh pulang tanpa penanganan lebih lanjut

Tri berkata bahwa ilmu toksinologi memang masih terabaikan di Indonesia. Pada saat ini, ahli toksinologi di Indonesia hanya dirinya saja.

Hal tersebut semakin terbukti ketika Tri yang juga penasihat kasus gigitan ular untuk Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan kasus serangan V affinis ke tingkat Asia.

Vespa affinis ini kalau di luar negeri, gigitannya jarang yang sampai begitu banyak. Paling satu tahun itu hanya menggigit dua atau tiga orang dan yang meninggal hanya satu. Jarang ada yang seperti kita ini, dalam beberapa bulan meninggal tujuh orang,” ujar Tri.

Oleh karena itu, Tri pun berpendapat bahwa seharusnya serangan tawon V affinis ini sudah termasuk Kejadian Luar Biasa (KLB).

Selain itu, serangan kali ini juga harus menjadi panggilan agar pemerintah Indonesia lebih serius dalam mendukung penelitian terhadap racun dan antivenom. Secara khusus, Tri mengusulkan untuk menciptakan program nasional dalam penanganan kasus-kasus semacam ini.

Baca juga: Gara-gara Buah Busuk, Inggris Diserang Tawon Mabuk

Pasalnya, Indonesia memiliki kondisi geografis dan kekayaan hayati yang unik. Selain tawon dan ular, Indonesia juga memiliki banyak hewan lain yang beracun, misalnya belalang, ulat bulu, dan ubur-ubur. Hewan-hewan ini belum tentu sama dengan yang di luar negeri sehingga antivenomnya pun bisa jadi berbeda.

Akan tetapi, belum banyak ahli yang tahu dan bisa membuat antivenom di Indonesia. Perusahaan farmasi yang ada sekarang pun tidak bisa mengatasi karena harus fokus dalam membuat vaksin.

“Jadi, saran saya adalah Indonesia harus membuat pabrik baru khusus untuk venom ini dan merekrut peneliti untuk membuat antivenomnya,” ujar Tri.

Selain itu, Tri juga mengharapkan adanya Pusat Racun atau Poison Center di Indonesia untuk mewadahi para ahli yang tertarik dengan bidang ini. Poison Center akan menjadi universitas, rumah sakit dan pusat riset untuk menangani racun-racun hewan di Indonesia.

“Kita punya rumah sakit untuk infeksi, rumah sakit untuk jantung, tapi rumah sakit untuk toksinologi itu belum ada. Padahal kita ini butuh rumah sakit toksinologi. Karena kalau ada kasus begini, kita rujuk ke mana? Kan rumah sakit olahraga juga ada, jadi harusnya sudah waktunya kita punya rumah sakit toksinologi ini,” ujarnya.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X