Teori Baru Bantah Legenda Pandangan Mata Lukisan Mona Lisa

Kompas.com - 10/01/2019, 10:03 WIB
Mona Lisa. Salah satu lukisan Leonardo da Vinci yang paling terkenal.The Louvre via Wikimedia Mona Lisa. Salah satu lukisan Leonardo da Vinci yang paling terkenal.

KOMPAS.com — Mungkin kita pernah melihat mata subyek dalam gambar seperti mengikuti ke segala arah kita pergi. Hal semacam ini dikenal sebagai Efek Mona Lisa.

Kepopuleran Leonardo da Vinci dan mahakarya Mona Lisanya dikenal seluruh dunia. Tak sedikit ilmuwan yang penasaran dan turun tangan ingin mencari tahu rahasia di baliknya.

Terbaru, sebuah studi yang terbit di jurnal i-Perspective mengungkap teori baru yang lain dari biasanya. Jurnal tersebut mengatakan bahwa mata Mona Lisa sebenarnya tidak sedang mengamati kita.

Sebaliknya, fenomena yang terjadi muncul ketika pandangan subyek tertuju langsung ke lensa kamera atau digambarkan sedang seperti itu.

Baca juga: Inilah Seniman Terkecil di Dunia, Bakteri Ciptakan Lukisan Mona Lisa

Maksudnya, seolah-olah mata memang melihat menembus kanvas atau medium lukis. Pada kamera, hal ini berkaitan dengan bentuk dan arah pupil mata saat melihat lensa.

"Efeknya tidak dapat disangkal dan dapat dibuktikan," ujar rekan penulis studi Dr Sebastian Loth dalam sebuah pernyataan.

Melansir Newsweek, Rabu (9/1/2019), Loth dan timnya yang berasal dari Universitas Bielefeld, Jerman, memperbesar lukisan Mona Lisa atau dikenal juga dengan nama La Gioconda lewat pemodelan komputer.

Lukisan abad ke-16 itu diperbesar dari 30 persen menjadi 70 persen, sampai yang terlihat hanya mata dan hidung. Jumlah gambar yang diperbesar ada 15 buah.

Tim Loth kemudian melibakan 24 peserta ke dalam penelitiannya untuk melihat tiga gambar secara acak di komputer.

Mereka diminta memberi pandangan, kira-kira ke arah mana mata subyek yang dilihatnya melihat.

Sebagian besar partisipan mengatakan bahwa Mona Lisa melihat ke sisi kanan pada sudut 15,4 derajat.

"Jadi jelas bahwa istilah Efek Mona Lisa tidak ada. Ini sebenarnya menggambarkan keinginan besar yang dimiliki manusia untuk dilihat dan menjadi pusat perhatian orang lain, meski Anda tidak saling mengenal," ujar rekan penulis studi lain Profesor Gernot Horstmann yang bekerja di Departemen Psikologi Universitas Bielefeld dan pakar gerakan mata.

Ia menjelaskan, orang yang melihat lukisan atau gambar mungkin merasa diamati jika pandangan mata subyek lukisan dibuat sedikit ke samping.

"Ini seolah-olah subyek yang dilukis melihat ke telinga dan berkorespondensi sekitar lima derajat dari jarak pandang normal. Namun, jika sudut pandang lebih dari itu, Anda tidak mungkin merasa sedang diamati," imbuh Horstmann.

Baca juga: Ilmuwan Temukan ?Mona Lisa Dinosaurus? di Kanada

Selain meluruskan frasa "Efek Mona Lisa", studi ini juga memiliki potensi signifikan bagi para desainer dalam berbagai industri, termasuk gim.

"Ketika berkomunikasi dengan avatar, misalnya dalam lingkungan virtual, tatapan akan meningkatkan pemahaman kita dengan avatar," kata Sebastian Loth.

"Mengandalkan tatapan mata avatar dapat membuat agen virtual mengekspresikan perhatian dan menunjuk objek yang relevan dengan misi gim, seperti halnya manusia," sambungnya.

Studi ini mencoba mengungkap bagaimana otak kita memproses ilusi optik.




Close Ads X