Kompas.com - 18/08/2018, 10:08 WIB
Lukisan Mona Lisa oleh bakteri E Coli Frangipane et al/eLife2018Lukisan Mona Lisa oleh bakteri E Coli

KOMPAS.com — Anda mungkin sulit untuk memercayainya, tetapi lukisan Mona Lisa ini tidak dibuat oleh manusia, melainkan bakteri Escherichia coli.

Para peneliti Italia tidak memodifikasi bakteri E coli hanya untuk bersenang-senang atau menjiplak karya seni ternama dunia.

Tujuan mereka yang sebenarnya adalah mencoba untuk menggabungkan berbagai atribut yang berbeda dalam upaya mengontrol populasi bakteri. Siapa tahu teknologi ini kemudian bisa dikembangkan menjadi alat transportasi mikroskopis atau printer tiga dimensi.

Salah satu penulis studi, Roberto di Leonardo dari Sapiezna University of Roma, mengatakan kepada Gizmodo, Kamis (16/8/2018), hal ini merupakan bukti konsep yang sangat menarik untuk mencoba menggunakan bakteri sebagai bata dan membangun struktur berskala mikro dengan biaya murah dan mudah.

Baca juga: Lukisan Gua Tertua Ini Sama Canggihnya dengan Lukisan Modern

Dalam studi yang dipublikasikan di eLife ini, para peneliti mencoba menggabungkan protein yang sensitif terhadap cahaya proteorhodopsin dengan flagellum atau ekor E coli. Dengan demikian, semakin banyak cahaya yang diterima oleh bakteri, semakin cepat juga ekornya bergerak.

Para peneliti kemudian menggunakan lensa mikroskop untuk memproyeksikan gambar ke bakteri.

Bakteri yang lebih lambat bergerak dan menerima lebih sedikit cahaya mengumpul, sedangkan bakteri yang lebih cepat karena menerima lebih banyak cahaya menyebar. Kumpulan bakteri ini kemudian membentuk gambar, di mana area yang terang memiliki lebih banyak bakteri daripada area yang gelap.

Frangipane et al (eLife 2018) Pola cahaya sebelum dan sesudah koreksi

Sayangnya gambar yang dihasilkan oleh bakteri masih belum sempurna. Selain proses yang lama, gambar yang dihasilkan juga kurang jelas.

Oleh karena itu, para peneliti pun mengatur pencahayaan dengan membuat area yang putih menjadi lebih terang dan sebaliknya untuk mendorong pengumpulan bakteri.

Di Leonardo mengatakan, pihaknya telah menunjukkan bagaimana penghentian bakteri yang berenang bisa menghasilkan kelas materi aktif baru yang dikontrol menggunakan cahaya dan dibentuk secara akurat menggunakan proyektor cahaya bertenaga rendah.

“Dengan teknik lebih lanjut, bakteri bisa digunakan untuk menciptakan struktur biomekanis padat atau alat mikro baru yang mentransportasikan kargo biologis kecil di dalam laboratorium mini,” ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Gizmodo
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal Lokasi, Karakteristik, dan Jenis Sesar Semangko

Mengenal Lokasi, Karakteristik, dan Jenis Sesar Semangko

Fenomena
Tidak Semua Kasus Dites Whole Genome Sequencing, Seberapa Efektif PCR-SGTF Deteksi Omicron?

Tidak Semua Kasus Dites Whole Genome Sequencing, Seberapa Efektif PCR-SGTF Deteksi Omicron?

Oh Begitu
Putri Nurul Arifin Meninggal Dunia karena Henti Jantung, Apa Saja Penyebab dan Gejalanya?

Putri Nurul Arifin Meninggal Dunia karena Henti Jantung, Apa Saja Penyebab dan Gejalanya?

Kita
Suara Asing Membuat Otak Tetap Aktif Saat Kita Tidur, Studi Jelaskan

Suara Asing Membuat Otak Tetap Aktif Saat Kita Tidur, Studi Jelaskan

Oh Begitu
WHO: Eropa Mungkin Bisa Menuju Akhir Pandemi Covid-19

WHO: Eropa Mungkin Bisa Menuju Akhir Pandemi Covid-19

Oh Begitu
Kakek Tewas Dikeroyok karena Diteriaki Maling, Mengapa Orang Main Hakim Sendiri?

Kakek Tewas Dikeroyok karena Diteriaki Maling, Mengapa Orang Main Hakim Sendiri?

Oh Begitu
Kakek Tewas Dikeroyok, Sosiolog : Main Hakim Sendiri jadi Momen Penyaluran Kekesalan Individu

Kakek Tewas Dikeroyok, Sosiolog : Main Hakim Sendiri jadi Momen Penyaluran Kekesalan Individu

Kita
Kerangkeng di Rumah Bupati Langkat Disebut untuk Rehabilitasi Pecandu Narkoba, Sudah Tepatkah Metode Ini?

Kerangkeng di Rumah Bupati Langkat Disebut untuk Rehabilitasi Pecandu Narkoba, Sudah Tepatkah Metode Ini?

Fenomena
Super Immunity Covid-19, Kombinasi Antibodi Pasca-Infeksi dan Vaksinasi

Super Immunity Covid-19, Kombinasi Antibodi Pasca-Infeksi dan Vaksinasi

Oh Begitu
95 Juta Tahun Lalu, Kepiting Kuno Punya Mata Besar dengan Penglihatan Sangat Tajam

95 Juta Tahun Lalu, Kepiting Kuno Punya Mata Besar dengan Penglihatan Sangat Tajam

Oh Begitu
Pasien Omicron di Jabodetabek Bisa Dapat Pelayanan dan Obat Covid-19 Gratis, Ini Syaratnya

Pasien Omicron di Jabodetabek Bisa Dapat Pelayanan dan Obat Covid-19 Gratis, Ini Syaratnya

Oh Begitu
Skenario Terburuk Gempa Banten yang Mengancam Wilayah Jakarta

Skenario Terburuk Gempa Banten yang Mengancam Wilayah Jakarta

Oh Begitu
Prediksi Ahli soal Covid-19 di Tahun 2022 Setelah Gelombang Infeksi Omicron

Prediksi Ahli soal Covid-19 di Tahun 2022 Setelah Gelombang Infeksi Omicron

Oh Begitu
Gejala Mirip Flu, Kapan Seseorang Harus Melakukan Pemeriksaan Covid-19?

Gejala Mirip Flu, Kapan Seseorang Harus Melakukan Pemeriksaan Covid-19?

Oh Begitu
Vaksin Booster Pfizer Bertahan Lawan Omicron Selama 4 Bulan, Studi Jelaskan

Vaksin Booster Pfizer Bertahan Lawan Omicron Selama 4 Bulan, Studi Jelaskan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.