Apakah Erupsi Gunung Anak Krakatau Benar-benar Berhenti?

Kompas.com - 30/12/2018, 19:19 WIB
Aktivitas letupan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terpantau dari udara yang diambil dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018). KOMPAS/RIZA FATHONI Aktivitas letupan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terpantau dari udara yang diambil dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018).


KOMPAS.com - Hari ini ramai diberitakan Gunung Anak Krakatau (GAK) sudah berhenti erupsi, sejak Sabtu malam (29/12/2018) sampai Minggu pagi (30/12/2018).

Apakah benar Gunung Anak Krakatau tiba-tiba berhenti erupsi dan tidak lagi menunjukkan adanya fluktuasi getaran?

Menjawab pertanyaan ini, Kompas.com menghubungi Kasbani selaku Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Ia memaparkan, Gunung Anak Krakatau masih aktif hanya saja aktivitasnya sudah menurun.

Baca juga: Tubuh Gunung Anak Krakatau Hilang Lebih dari Setengah, Ini Dampaknya

"( Erupsi) Belum (berhenti), aktivitasnya masih tinggi. Namun dibandingkan hari-hari sebelumnya memang ada penurunan," ujar Kasbani kepada Kompas.com.

Aktivitas GAK yang disebut menurun oleh Kasbani antara lain tidak ada lagi suara dentuman, frekuensi letusan berkurang, dan kini hanya menyisakan sedikit getaran tremor.

"Erupsi masih ada, cuma memang tidak sebanyak sebelumnya. Memang intensitasnya sudah mulai berkurang tapi belum benar-benar berhenti," katanya lagi.

Meski aktivitas menurun, Kasbani mengatakan status GAK saat ini masih ada di Level III (Siaga).

Untuk itu, Kasbani menghimbau masyarakat untuk tidak mendekati kawah dalam radius 5 km dari kawah.

Diwartakan kantor berita Antara News, Minggu (30/12/2018), PVMBG menyampaikan terima kasih kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) atas pemantauan visual distribusi abu (lateral dan vertikal) erupsi Gunung Anak Krakatau via Satelit Himawari dan radar cuaca.

Informasi ini sangat vital untuk mengetahui aktivitas erupsi manakala para pengamat PVMBG di Pos Pasauran sulit melakukan pengamatan karena gunung tertutup kabut di musim hujan seperti saat ini. Kondisi cuaca yang buruk menyebabkan  pelaporan tinggi kolom abu tidak akurat.

Berdasarkan laporan Windi Cahya Untung, staf Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG Pos Pengamatan Pasauran Gunung Api Krakatau periode pengamatan Sabtu (29/12/2018) pukul 00.00 sampai dengan 23.59 WIB, ketinggian Gunung Anak Krakatau kini tinggal 110 meter dari permukaan laut.

Sebelumnya,  ketinggian GAK mencapai 338 meter di atas permukaan air laut.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X