Rayhan Dudayev
peneliti

Peneliti Indonesian Center for Environmental Law (ICEL)

Gagap terhadap Bencana di Negara Kepulauan Terbesar di Dunia

Kompas.com - 19/11/2018, 19:05 WIB
Petugas tengah memperlihatkan intensitas gempa vulkanik melalui alat seismograf yang memantau aktivitas Gunung Agung di Pos Pengamatan Gunung Api Agung Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Desa Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Selasa (19/9/2017). KOMPAS/AYU SULISTYOWATIPetugas tengah memperlihatkan intensitas gempa vulkanik melalui alat seismograf yang memantau aktivitas Gunung Agung di Pos Pengamatan Gunung Api Agung Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Desa Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Selasa (19/9/2017).
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SEBAGAI negara kepulauan terbesar di dunia, dengan kuantitas bencana cukup tinggi di Indonesia, banyak masyarakat yang tidak mengetahui antasipasi yang perlu dilakukan dalam menghadapi bencana, terutama di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Tulisan ini hadir berkat pengalaman "mencekam" ketika berada di Bali, tepatnya di timur Pulau Bali. Amed. nama dusun di mana saya tinggal pada saat itu, berbatasan dengan Selat Lombok.

Waktu menunjukkan pukul 19.00 (kurang lebih). Hari mulai gelap. Banyak penginapan di daerah tersebut juga mulai terlihat sepi.

Awal Agustus, pada malam itu, tanah berguncang hebat. Jalanan yang tadinya sepi kini dipenuhi manusia, terutama wisatawan mancanegara. Orang-orang panik. Turis asing yang baru saja check in penginapan kebingungan kemudian menangis keras. Orang-orang menjadi tidak rasional dan berhamburan.

"Gempa! Gempa!" "Earthquake! Earthquake! Try to find an open space!"

Beberapa orang berteriak seperti itu, reflek. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasakan guncangan yang begitu hebat. Terasa seperti mimpi.

Setelah guncangan keras reda, orang-orang mulai kembali tempatnya masing masing. Sampai adanya gempa susulan, orang-orang kembali berhamburan walaupun tidak seperti sebelumnya.

Namun, pada saat situasi tersebut, mereka berusaha meninggalkan Amed yang berbatasan langsung dengan selat. Mereka khawatir tsunami terjadi.

Pada saat itu, beberapa turis terlihat rasional untuk mencari tempat evakuasi apabila tsunami terjadi. Beberapa orang masih menangis karena khawatir hal buruk akan terjadi.

Masyarakat lokal memutuskan untuk berbondong-bondong pindah ke bukit dengan segala ketidakpastiaan mengenai apa yang terjadi berikutnya ketika gempa terus berlangsung sekitar 15 menit sekali.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.