Kabar Buruk, Hanya Tersisa 23 Persen Alam Liar di Muka Bumi Ini

Kompas.com - 09/11/2018, 19:06 WIB
Ilustrasi hutan. THINKSTOCKPHOTOSIlustrasi hutan.

KOMPAS.com - Ada kabar yang kurang menyenangkan. Sebuah penelitian yang dipimpin oleh University of Queensland mengungkapkan jika wilayah alam liar di Bumi semakin menyusut.

Tim internasional baru-baru ini melakukan pemetaan sisa alam liar di dunia, dan salah satu peneliti, Profesor James Watson dari University of Queensland School of Earth and Environmental Sciences, berkata bahwa dia khawatir dengan hasilnya.

"Satu abad yang lalu, hanya 15 persen permukaan bumi yang digunakan oleh manusia untuk bercocok tanam dan memelihara ternak," katanya.

Sementara hari ini, lebih dari 77 persen daratan, tidak termasuk Antartika, dan 87 persen lautan tidak luput dari aktivitas manusia.

Baca juga: Tanaman di Arktik Tumbuh Lebih Tinggi, Ini Artinya bagi Bumi

Ini memang sulit dipercaya, tetapi antara tahun 1993 sampai 2009, wilayah alam liar yang lebih besar dari India atau sekitar 3,3 juta kilometer persegi hilang karena digunakan untuk pemukiman, pertanian, pertambangan dan lain-lain.

Lalu, satu-satunya lautan yang bebas dari penangkapan industri serta polusi hanya terbatas pada wilayah kutub saja.

Peneliti lain yang terlibat, James R Allan, ikut menambahkan jika alam liar yang tersisa di dunia hanya bisa dilindungi melalui kebijakan internasional.

"Beberapa kawasan alam liar dilindungi oleh undang-undang nasional, tetapi di sebagian besar negara, area ini tidak didefinisikan secara formal, dipetakan atau dilindungi," kata Allan.

Baca juga: Apakah Bumi Terlahir Basah atau Kering?

Selain itu juga tidak ada yang bisa menjamin sebuah bangsa, industri, atau masyarakat untuk memperhitungkan konservasi jangka panjang.

"Untuk itu kami membutuhkan segera kebijakan global untuk pelestarian keanekaragaman hayati, untuk menghindari perubahan iklim yang berbahaya dan mencapai pembangunan berkelanjutan," tambah Allan.

Salah satu intervensi jelas yang dapat diprioritaskan oleh negara-negara ini adalah membangun kawasan lindung dengan cara-cara yang akan memperlambat dampak kegiatan industri pada lanskap atau laut yang lebih besar.

"Kami telah kehilangan begitu banyak, jadi kami harus menangkap peluang ini untuk mengamankan alam liar yang tersisa sebelum menghilang selamanya."

Temuan ini diterbitkan di jurnal Nature.

sumber https://phys.org/news/2018-10-world-wilderness.html



Sumber PHYSORG
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Waspada Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Jabodetabek, Ini Daftar Wilayahnya

Waspada Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Jabodetabek, Ini Daftar Wilayahnya

Oh Begitu
Mengapa Hujan Seharian Bisa Menyebabkan Bencana Banjir?

Mengapa Hujan Seharian Bisa Menyebabkan Bencana Banjir?

Fenomena
Tidur Tengkurap Membuat Pasien Covid-19 Terhindar dari Ventilator, Kok Bisa?

Tidur Tengkurap Membuat Pasien Covid-19 Terhindar dari Ventilator, Kok Bisa?

Oh Begitu
Gempa Hari Ini: M 5, 1 Guncang Pandeglang Terasa hingga Malingping

Gempa Hari Ini: M 5, 1 Guncang Pandeglang Terasa hingga Malingping

Fenomena
Terlalu Banyak Makan Makanan Manis Bisa Melemahkan Sistem Kekebalan, Kok Bisa?

Terlalu Banyak Makan Makanan Manis Bisa Melemahkan Sistem Kekebalan, Kok Bisa?

Oh Begitu
Ahli Sebut 140.000 Virus Baru Ditemukan di Usus Manusia

Ahli Sebut 140.000 Virus Baru Ditemukan di Usus Manusia

Oh Begitu
Kamasutra Satwa: Hewan Bonobo Lakukan Hubungan Sesama Jenis

Kamasutra Satwa: Hewan Bonobo Lakukan Hubungan Sesama Jenis

Oh Begitu
3 Misteri Alam Semesta Berpotensi dapat Nobel Prize, Jika Terpecahkan

3 Misteri Alam Semesta Berpotensi dapat Nobel Prize, Jika Terpecahkan

Fenomena
Di Bawah Sinar UV, Bulu Hewan Ini Menyala Seperti Lampu Disko

Di Bawah Sinar UV, Bulu Hewan Ini Menyala Seperti Lampu Disko

Oh Begitu
Viral Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Peneliti Sebut karena Kelainan Genetis

Viral Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Peneliti Sebut karena Kelainan Genetis

Oh Begitu
Siapa yang Boleh Donor Terapi Plasma Konvalesen? Ini Syarat Lengkapnya

Siapa yang Boleh Donor Terapi Plasma Konvalesen? Ini Syarat Lengkapnya

Kita
Sekali Suntik, Vaksin Johnson & Johnson Efektif Kurangi Risiko Covid-19

Sekali Suntik, Vaksin Johnson & Johnson Efektif Kurangi Risiko Covid-19

Fenomena
Jangan Minum Obat Pereda Nyeri Sebelum Divaksin Covid-19, Begini Penjelasan Ahli

Jangan Minum Obat Pereda Nyeri Sebelum Divaksin Covid-19, Begini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Tingkat Imun Bisa Prediksikan Risiko Infeksi Covid-19 Gejala Berat

Tingkat Imun Bisa Prediksikan Risiko Infeksi Covid-19 Gejala Berat

Oh Begitu
Penemuan Kebetulan Microwave, Alat Masak Canggih di Akhir Perang Dunia

Penemuan Kebetulan Microwave, Alat Masak Canggih di Akhir Perang Dunia

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X