Kompas.com - 03/11/2018, 20:06 WIB
Koloni mungil berjumlah empat orang yang berangkat dari bumi tersebut rencananya akan tinggal di dalam Living Unit. Living Unit atau Unit untuk Hidup tersebut memiliki ruang dengan bentuk unik kedap udara yang aman digunakan oleh para astronot. www.dezeen.comKoloni mungil berjumlah empat orang yang berangkat dari bumi tersebut rencananya akan tinggal di dalam Living Unit. Living Unit atau Unit untuk Hidup tersebut memiliki ruang dengan bentuk unik kedap udara yang aman digunakan oleh para astronot.

KOMPAS.com - Masalah paling penting dari sebuah perjalanan jauh adalah perkara bahan bakar. Apalagi jika perjalanan tersebut menuju planet lain, tentu perkara bahan bakar menjadi masalah paling krusial terutama untuk perjalanan pulang.

Untuk mengatasi hal ini, pihak Badan Antariksa AS (NASA) lewat Kurt Leucht menulis tentang bagaimana mereka bekerja keras untuk mendapat solusi potensial permasalahan ini.

Mereka berpikir salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah mengekstrak tanah Mars sebagai bahan bakar roket.

Tim yang dipimpin Leucht menyebut solusi ini sebagai sistem "pemanfaatan sumber daya in situ" atau IRSU. Meski demikian dia lebih suka menyebutnya "pabrik debu sebagai pendorong (roket)".

Ide dari ISRU adalah mengekstrak air dari regolith, tanah merah khas Mars. Kemudian menggunakan elektrolisis untuk "mengupasnya" menjadi hidrogen dan oksigen.

Tim ini berencana menggabungkan hidrogen hasil proses tersebut dengan karbon dari atmosfer Planet Merah untuk menghasilkan metana. Nah, metana inilah yang menjadi bahan bakar roket untuk kembali pulang ke Bumi.

Diwartakan dari Science Alert, Kamis (01/11/2018), NASA sendiri berencana mengirim sistem ISRU menjelang misi koloni manusia di Mars. Rencananya, sistem ini akan dikirim bersama dengan robot yang akan mengumpulkan tanah dari permukaan tetangga Bumi tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Teknologi ini suatu hari akan memungkinkan manusia untuk hidup dan bekerja di Mars," tulis Leucht.

"Dan kembali ke Bumi untuk menceritakan kisah," imbuhnya.

Baca juga: Teka-teki Kehidupan di Mars, Air Asinnya Ditemukan Mengandung Oksigen

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.