Kompas.com - 31/10/2018, 20:36 WIB
John Kerry memberikan pidato pada Our Ocean Conference, Senin (29/10/2018). YoutubeJohn Kerry memberikan pidato pada Our Ocean Conference, Senin (29/10/2018).

KOMPAS.com - Our Ocean Conference 2018 yang diadakan di Nusa Dua, Bali akhirnya berakhir kemarin (30/10/2018). Namun, perhelatan yang dihadiri oleh 5 kepala negara, 45 perwakilan pemerintah, dan ribuan delegasi itu tidak berakhir sia-sia.

Dilansir dari siaran pers OOC 2018, konferensi kelautan terbesar di dunia itu berhasil melahirkan lebih dari 287 komitmen dengan nilai lebih dari 10 miliar dolar AS.

Momen tersebut juga mendorong negara-negara di dunia untuk menciptakan 14 juta kilometer persegi Kawasan Konservasi Laut, melebihi perkiraan sebelumnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan daam sambutannya pada Global Ocean Leadership Panel, jumlah ini melebihi harapan kami. Kami berterimakasih atas kontribusi kolektif Bapak Ibu sekalian dalam menentukan masa depan laut dan isinya, agar lebih lestari dan dikelola secara berkelanjutan.

Ada dua isu yang menjadi perhatian besar dalam OOC 2018, yaitu polusi plastik di lautan dan perikanan ilegal (illegal fishing).

Pasalnya, plastik yang mencemari lautan pada akhirnya akan terurai menjadi mikroplastik. Mikroplastik ini kemudian dimakan oleh ikan dan berpindah ke manusia.

“Ini tentunya sangat membahayakan diri kita sendiri, karena kita makan ikan yang mengandung mikroplastik,” jelas Susi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Hadir di Our Ocean Conference Bali, John Kerry Sentil Trump dan China

Sementara itu, John Kerry dalam pidatonya di OOC 2018, Senin (29/10/2018) berkata bahwa ada ribuan pelaku illegal fishing di lautan. Para pelaku illegal fishing ini kerap kali menggunakan alat tangkap yang merusak lingkungan, mencemari ekologi laut dan mengelabui aparat dengan menggunakan banyak bendera. Mereka juga mengeruk kekayaan sumber daya laut dengan tidak bertanggung jawab.

Susi berkata bahwa pelaku illegal fishing mengeksploitasi 93 persen dari ikan di lautan Indonesia menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.

Indonesia sendiri, seperti yang diungkapkan oleh John Kerry, telah melakukan upayanyang sangat baik dalam melawan illegal fishing, memulihkan terumbu karang, dan menegakkan hukum internasional.

Sejauh ini, Indonesia telah berhasil menenggelamkan 488 kapal pelaku illegal fishing. Lalu, seperti yang dikatakan Susi, Indonesia juga memberlakukan moratorium terhadap kapal ex asing dan melarang trawl yang telah merusak perairan Indonesia.

Susi pun mengatakan bahwa dalam menjaga kelestarian laut secara bertanggung jawab diperlukan koordinasi dna kerja sama antar negara, terutama kerja sama internasional.

“Indonesia belajar, tanpa adanya kerja sama dengan negara tetangga, apa yang kita lakukan belumlah cukup. Kita harus menyadari bukan laut yang membutuhkan kita, melainkan kita yang membutuhkan laut. Laut mampu memulihkan dirinya sendiri jika kita memberinya kesempatan,” tutupnya.

Baca juga: 10 Menit Bersama Luhut: Musuh Bersama Kita adalah Sampah Plastik



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.