Pertama di Dunia, Lukisan Buatan AI Terjual Rp 6,6 Miliar

Kompas.com - 26/10/2018, 18:08 WIB
Portrait of Edmond Belamy OviousPortrait of Edmond Belamy

KOMPAS.com – Sebuah lukisan yang menampilkan seorang pria dengan mantel hitam terjual dengan harga 432.500 dollar AS atau sekitar Rp 6,6 miliar pada hari Kamis (25/10/2018) di pelelangan Christie’s.

Sekilas, lukisan tersebut tampaknya biasa saja, malah agak menakutkan karena wajah pria tersebut tidak terlihat jelas. Namun, lukisan ini menjadi luar biasa ketika Anda tahu pembuatnya.

Lukisan yang diberi judul “Portrait of Edmond Belamy” ini merupakan lukisan karya kecerdasan buatan ( AI) pertama di dunia yang dilelang di dunia seni.

AI pelukisnya, Ovious, membuat lukisan ini dengan meniru gaya seniman ternama, seperti Rembrandt van Rijn.

Baca juga: 5 Hal Mengejutkan yang Tak Disangka Bisa Dilakukan Kecerdasan Buatan

Dalam mengajari Ovious gaya Rembrandt dan pelukis lainnya, para ahli, termasuk Hugo Caselles-Dupré, Pierre Fautrel dan Gauthier Vernier, menggunakan metode generative adversarial network (GAN).

Alogaritma GAN ini melibatkan sebuah Generator (yang membuat karya seni) dan Discriminator (yang berusaha membedakan karya buatan manusia dan AI).

Caselles-Dupre menuturkan, kami memberi sistem ini data yang berisi 15.000 lukisan manusia dari abad ke-14 hingga abad ke-20.

“Generator membuat lukisan baru berdasarkan data itu, dan Discrimantor mencoba membedakan buatan manusia dan buatan Generator. Tujuannya adalah untuk membohongi Discriminator dan kini kita punya hasilnya,” ujarnya.

Baca juga: Studi: di Masa Depan AI Saingi Dokter dalam Deteksi Gangguan Mental

Christie’s mengakui bahwa Discriminator lebih mudah dibohongi daripada mata manusia, dan hasil yang dibuat oleh Generator masih belum bisa menyaingi tangan manusia.

Akan tetapi, badan pelelangan itu juga berkata bahwa ini merupakan langkah besar yang berani bagi AI.

“Harus diakui bahwa membuat potret manusia adalah genre yang sangat susah bagi AI. Pasalnya, manusia sudah terbiasa dengan lekuk dan kompleksitas wajah yang tidak pernah dialami oleh mesin,” ujar Christie’s.

Selain membuat potret manusia, alogaritma GAN sebetulnya juga digunakan untuk melukis telanjang dan pemandangan alam. Akan tetapi, Caselles-Dupre dan koleg menilai bahwa kedua genre itu tidak sebaik potret manusia dalam memaksa alogaritma untuk mengemulasikan kreativitas manusia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X