Kompas.com - 15/10/2018, 19:32 WIB
Banjir merendam pemukiman penduduk di Desa Teluk Rumbia, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, Minggu (14/10/2018) Dok BPBD Aceh SingkilBanjir merendam pemukiman penduduk di Desa Teluk Rumbia, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, Minggu (14/10/2018)

KOMPAS.com - Jelang musim hujan yang akan datang ke Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat mewaspadai terjadinya banjir bandang di beberapa titik seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Tinjauan dari tim BMKG, bercermin dari kasus yang terjadi pada tahun 2003, di Sumatera Utara, tepatnya di Taman Nasional Leuser, di mana banjir bandang menyapu desa-desa yang ada di sekitarnya.

Ia menjelaskan, bahwa banjir longsor terjadi akibat dari di wilayah hulu sungai tersebut menyempit dan terjadi longsoran akibat curah hujan yang ekstrem. Ketika longsor terjadi, pohon-pohon yang ada secara utuh turut tumbang dan menyumbat puluhan titik di hulu sungai. Ditambah dengan adanya akumulasi curah hujan yang tinggi, maka banjir bandang terjadi.

"Akhirnya sumbatan itu jebol dan mengalir dengan cepat ke bawah sampai ke kaki lereng. Jangkauan aliran banjir bandang dapat mencapai beberapa kilometer dari arah hulu," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam jumpa pers yang dilakukan pada Senin (15/10/2018) di Jakarta.

Dwikorita menerangkan, secara keilmuan banjir bandang dikontrol oleh tiga kondisi utama.

Baca juga: Jawa Panas, kok, Aceh Banjir? BMKG Ungkap, Sebabnya Pusaran Angin

Pertama, kondisi geologi yang terjadi pada daerah hulu dari sungai-sungai yang mengalir di zona pegunungan dengan tektonik aktif, berkaitan dengan kondisi patahan aktif dan kekar-kekar yang membentuk pegunungan dan lembah-lembah sungai.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kedua kondisi seismisitas atau kegempaan dengan kekuatan mulai dari magnitudo yang sebenarnya tidak begitu besar dikisaran 2.5 - 4. Kemudian yang terakhir adanya curah hujan ekstrem di atas 50mm yang memicu terjadinya banjir bandang.

Terkait hal tersebut, BMKG meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman banjir bandang terutama yang bertempat tinggal di sepanjang aliran sungai.

Sementara itu di wilayah lereng pegunungan, Dwikorita mengungkapkan tidak perlu hujan ekstrem untuk memicu banjir bandang. Warga perlu waspada begitu mendung tebal menggelayut.

"Kita akan terus laporkan kurang dari 6 jam sebelum terjadi cuaca ekstrem. Mohon masyarakat terus waspada," pungkasnya.

Baca juga: Seluruh Belahan Selatan Indonesia Panas, BMKG Beberkan Datanya



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X