3 Sebab Harapan Hidup Pasien Kanker Paru di Indonesia Rendah - Kompas.com

3 Sebab Harapan Hidup Pasien Kanker Paru di Indonesia Rendah

Kompas.com - 10/10/2018, 19:07 WIB
Ilustrasi kanker paru-paruBen-Schonewille Ilustrasi kanker paru-paru

KOMPAS.com - Kabar duka dari istri Indro Warkop, Nita Octobijanthy, akibat kanker paru mengingatkan kita akan ganasnya penyakit ini.

Untuk diketahui, kanker paru merupakan jenis kanker yang paling banyak didiagnosis di dunia. Tak hanya itu, penyakit ini juga menjadi penyebab kematian utama dunia.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, sepanjang tahun 2018 ini sudah tercatat 1,8 juta kematian akibat kanker paru.

Hal ini tidak lepas dari tingkat kesembuhannya yang hanya sekitar 16 hingga 18 persen saja. Tapi apa sebabnya tingkat kesembuhan kanker paru terbilang rendah?

1. Sulit dideteksi

Kanker paru sulit dideteksi secara dini. Penyebabnya, kanker paru tak menunjukkan gejala pada tahap awal. Kalaupun ada, gejalanya tidak spesifik.

Hal itu dikemukakan Guru Besar Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI-RS Persahabatan Anwar Jusuf, Kamis (26/4/2012), di Jakarta.

Menurut Anwar, gejala kanker paru biasanya berupa batuk, berat badan turun, dan tidak nafsu makan.

"Hal itu sama dengan gejala penyakit lain, seperti tuberkulosis atau pneumonia," katanya.

Baca Selengkapnya: Sulit Dideteksi Dini dan Sulit Disembuhkan

2. Salah diagnosis

Kekeliruan diagnosis kanker paru dan TB Pulmonori kerap menimpa masyarakat. Kasus ini pernah diteliti di Rumah Sakit Moewardi, Surakarta.

Hasilnya, hampir 28,7 persen pasien kanker paru mengalami kesalahan diagnosis dengan TB-Pulmonari.

Sebanyak 73,4 persen pasien yang salah diagnosis itu bahkan sudah menjalani perawatan anti-TB selama lebih dari satu bulan. Nyatanya, hanya 2,5 persen yang mengalami TB.

Baca selengkapnya: Kesalahan Diagnosis Kanker Paru Sering Terjadi, Anda Turut Berperan

3. Sulit dijinakkan

Ilmuwan dari A*STAR's Genome Institute of Singapore (GIS) dan ahli tumor dari National Cancer Centre Singapore (NCCS), menemukan bahwa tumor pada pasien paru-paru di wilayah Asia memiliki variasi genetik yang tinggi.

Hal ini membuat peneliti menyadari alasan mengapa tumor mengalami resistensi meskipun sudah diberi obat untuk menghambat perkembangan tumor.

"Studi tentang kompleksitas genetik tumor pada pasien Asia telah memberi kita wawasan baru mengapa mereka cepat mengembangkan resistensi setelah pemberian anti-EGFR," kata Dr. Axel Hillmer, Principal Investigator di GIS dan tergabung dalam penelitian ini.

"Kami juga menemukan bahwa tumor dengan tingkat mutasi yang tinggi akan lebih resisten terhadap obat," imbuhnya.

Baca selengkapnya: Kanker Paru-paru di Asia Sulit Dijinakkan, Ahli Temukan Sebabnya



Close Ads X