Kompas.com - 02/10/2018, 17:02 WIB
Dampak kerusakan akibat gempa Donggala dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9/2018), di Kampung Wani 2, Kecamatan Tanatopea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). Kapal Sabuk Nusantara 39 sampai terdampar ke daratan. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMODampak kerusakan akibat gempa Donggala dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9/2018), di Kampung Wani 2, Kecamatan Tanatopea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). Kapal Sabuk Nusantara 39 sampai terdampar ke daratan.


KOMPAS.com - Sistem peringatan yang tidak memadai, kurangnya pemahaman mitigasi bencana saat terjadi gempa berkekuatan destruktif, disebut sebagai faktor sempurna untuk melahirkan bencana mematikan di Indonesia.

Hal tersebut nyata terlihat dalam peristiwa gempa berkekuatan 7,4 di Donggala dan Tsunami yang menghantam Palu. Atas peristiwa tersebut, tercatat sudah ada 844 orang yang meninggal dunia.

Saat para korban dimakamkan di kuburan massal dan tim penyelamat berjuang untuk mencapai daerah terisolasi, berbagai pertanyaan muncul. Salah satunya, apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa.

"Informasi tsunami tidak tercatat karena stasiun pemantau pasang di Palu tidak berfungsi," kata Widjo Kongko, ahli tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Baca juga: 4 Fakta tentang Alat Deteksi Tsunami Buoy di Indonesia

Tragedi ini pun menyoroti pendapat para kritikus tentang sistem peringatan dini kurang bermutu yang digunakan untuk mendeteksi tsunami di Indonesia. Padahal negara kita ada di wilayah cincin api dan sangat rentan terjadi bencana alam.

Seperti kita tahu, setelah terjadi gempa besar yang pertama, BMKG memonitor aktivitas seismik dan mengeluarkan peringatan tsunami, tetapi setengah jam kemudian peringatan tersebut dicabut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Beberapa menit kemudian, muncul gelombang tinggi sekitar 3 meter yang membanjiri pantai, meratakan bangunan, dan menjungkirbalikkan mobil.

Satu-satunya alat prediksi gempa yang dapat diikuti tsunami adalah stasium pemantauan gelombang dan pemodelan data.

Dikelilingi masalah

Dilansir AFP, Senin (1/10/2018), meski semua stasiun milik negara dapat bekerja optimal, para ahli mengatakan jaringan yang dipancarkan terbatas dan hanya ada sedikit waktu untuk menyelamatkan diri. Pasalnya, alat hanya bisa mendeteksi gelombang saat sudah dekat dengan pantai.

Upaya-upaya untuk memperbaiki sistem pun memiliki banyak kendala, mulai dari minimnya perawatan sampai ruwetnya birokrasi.

Halaman:


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.