Kompas.com - 22/09/2018, 18:08 WIB
Isu tentang pengguran kandungan melalui jalan yang tidak aman (unsafe abortion) menjadi perhatian PKBI. Mereka menyoroti dampak yang dapat ditimbulkan akibat dari pengguguran kehamilan yang tanpa konsultasi yaitu, kesehatan dan kematian perempuan. Isu tentang pengguran kandungan melalui jalan yang tidak aman (unsafe abortion) menjadi perhatian PKBI. Mereka menyoroti dampak yang dapat ditimbulkan akibat dari pengguguran kehamilan yang tanpa konsultasi yaitu, kesehatan dan kematian perempuan.

KOMPAS.com – Berada di Lembaga Pembinaan tidak memupus asa anak untuk dapat berprestasi. Meski pada awalnya, banyak Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak belum menfasilitasi layanan dasar mereka, seperti pendidikan dan kesehatan.

“Sejauh ini sebanyak 810 anak didik di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) telah terfasilitasi pemenuhan hak-hak dasarnya seperti layanan pendidikan, kesehatan, dan identitas diri,” ungkap Yudi Supriadi dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, saat diwawancarai pada Jumat, (21/09/2018), di Jakarta.

Program ini tentu tidak hanya menghasilkan harapan kosong. Menurut Yudi, beberapa dari mereka telah berprestasi di masyarakat.

“Di DKI, ada beberapa orang yang bekerja sebagai barista, diterima keluarga, ada yang melanjutkan kuliah lagi, kemudian di Bandung ada yang bekerja di perusahaan swasta, di Bengkulu ada yang jadi juragan sayur, di Palembang ada yang jadi sipir di LPKA di situ. Kebayang ga? Anak yang tadinya putus harapan, mereka menjadi lebih baik,” katanya.

Baca juga: Peran Penting Konseling dalam Kehamilan yang Tidak Dikehendaki

Ia menambahkan, bahkan ada tiga anak yang berasal dari LPKA di Palembang yang berprestasi dalam kejuaran umum Pencak Silat. Dua diantaranya bahkan memperoleh medali emas, dan yang satu memperoleh medali perak.

Awalnya, Yudi bersama PKBI melihat kondisi LPKA di lima wilayah di Indonesia, yang terdiri dari Jakarta, Palembang, Bengkulu, Bandung, dan Blitar, berada pada kondisi yang menyedihkan.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Pertama datang kami lihat eksklusinya, ekskulis dilihati dari layanan dasar, pendidikan, kesehatan, dukungan sosial keluarga, termasuk kekerasan. Dari segi kesehatan ada yang gatal-gatal, asma, dan terutama mental. Hampir semuanya tidak percaya diri, tidak siap kembali ke masyarakat. Kebanyakan mereka tidak tahu mau kembali ke mana,” ujarnya.

Kemudian bekerjasama dengan beberapa instansi pemerintah, mulai dari dinas pendidikan, Kemenkumham, dan mahasiswa, PKBI berusaha untuk mengubah eksklusi anak di LPKA.

Baca juga: Dirjen KesMas: Buku KIA adalah Tanggung Jawab Orangtua Terhadap Anak

PKBI merencanakan, program ini tidak berhenti hanya pada lima wilayah di atas. Tahun ini, Yudi menuturkan bahwa PKBI akan berencana untuk melakukan perubahan pada LPKA di Kupang, Nusa Tenggara Timur, dan Maros di Sulawesi Selatan.

“Kita replikasi, yang tadinya hanya lima LPKA, kita akan menambah dua di Kupang dan Maros. Kami targetkan seluruh Indonesia, LPKA menjadi lebih baik. Dengan menambah di Kupang dan Maros, kita berharap bisa mendapatkan potret LPKA yang ada di sana, karena secara budaya berbeda. Kalau kita bisa memotret wilayah ini, kita bisa menerapkan di mana pun,” kata Yudi.

Pada tahun 2019, PKBI melalui Yudi akan merembugkan bersama dengan Kemenkumham untuk penentuan wilayah mana lagi akan dijalankan program ini.

“Kita paparkan tujuh LPKA, yuk kita mengembangkan wilayah mana yang urgent untuk dilakukan program ini,” pungkasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X