Kekeringan Parah di Australia Menyebar ke Indonesia, Ini Kata BMKG

Kompas.com - 20/09/2018, 19:32 WIB
Seorang anak berjalan di sekitar areal tambak yang mengering di Indramayu, Jawa Barat, Selasa (11/9/2018). Sebanyak 22 kabupaten/kota di Jawa Barat sejak Agustus 2018 terdampak kekeringan dan kekurangan pasokan air bersih akibat kemarau panjang. ANTARA FOTO/DEDHEZ ANGGARASeorang anak berjalan di sekitar areal tambak yang mengering di Indramayu, Jawa Barat, Selasa (11/9/2018). Sebanyak 22 kabupaten/kota di Jawa Barat sejak Agustus 2018 terdampak kekeringan dan kekurangan pasokan air bersih akibat kemarau panjang.


KOMPAS.com - Kekeringan di Australia berdampak besar pada negara tetangganya, Indonesia. Setidaknya sekitar lima juta penduduk Indonesia menderita akibat musim kemarau panjang.

Udara panas dan kering yang diperparah oleh kondisi kekeringan di Australia telah menyebar ke utara, berkontribusi pada masalah kekurangan air di 4.000 desa Indonesia.

Siswanto direktur klimatologi di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) mengatakan, kondisi cuaca di Indonesia mengikuti apa yang terjadi di Australia.

"Musim kemarau di Indonesia sebenarnya dipaksakan oleh sirkulasi angin yang datang dari benua Australia," katanya.

"Ketika udara kering dan lebih sedikit uap air yang disirkulasikan dari Australia ke Indonesia, itu memodulasi musim kemarau di Indonesia."

Baca juga: Batu Tua Berusia Ratusan Tahun Beri Pesan Soal Kekeringan di Eropa

Petani padi berjuang untuk memenuhi kebutuhan

Pulau Jawa, pulau terpadat di Indonesia, terpukul paling parah oleh musim kemarau panjang. Beberapa petani mengatakan mereka tidak melihat hujan dalam empat bulan.

Di Kabupaten Tangerang, petani beras bernama Nurdin mengaku panennya menurun pada musim sebelumnya.

"Padi berhenti tumbuh, akarnya mati, jadi panen gagal di musim ini," kata Nurdin.

"Untuk satu hektar sawah, kami biasanya dapat (memanen) paling tidak lima ton beras. Musim ini kami hanya dapat lima karung beras. Cuma 250 kilogram. Parah!"

Keluhan yang sama datang dari Ampir yang sudah bertani selama 20 tahun. Ia mengatakan, musim kemarau kali ini berlangsung dua kali lebih lama dari biasanya.

"Ini susah untuk pemasukan keluarga, waktunya betul-betul jelek untuk kami," katanya kepada ABC.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X