Dalam Mengobati Diare, Oralit Saja Tidak Cukup

Kompas.com - 18/09/2018, 18:37 WIB
Ilustrasi. Ilustrasi.

KOMPAS.com – Diare masih sering dianggap oleh masyarakat sebagai penyakit yang tidak berbahaya dan bisa diatasi hanya dengan minum oralit. Padahal, oralit saja tidak cukup.

Hal ini diungkapkan oleh dr Ariani Dewi Widodo, SpA(K), dari RSIA Bunda Jakarta, saat ditemui pada kegiatan Intervensi Gizi Spesifik dalam Upaya Pencegahan Stunting, Selasa (18/09/2018), di Jakarta.

“Oralit memang efektif mengatasi dehidrasi yang disebabkan diare dan menurunkan mortalitas tapi dia tidak mengurangi lama dan beratnya diare. Dia hanya menggantikan cairan yang hilang. Tapi masih ada faktor lainnya seperti kesakitan akibat diare. Karena itu perlu terapi lain untuk menangani diare,” ujarnya.

Pada saat diare terjadi, jonjot-jonjot atau vili dalam usus anak mengalami kerusakan. Vili sendiri berperan penting bagi pencernaan anak karena berfungsi sebagai penyerap gizi mikro makanan. Bersamaan dengan diare, gizi mikro yang tidak terserap akan terbuang melalui kotoran bersamaan dengan cairan tubuh.

Baca juga: Waspadai Diare Rotavirus

Salah satu gizi mikro yang terbuang saat diare adalah zinc. Padahal zinc dalam tubuh manusia berperan penting dalam kasus diare.

“Zinc adalah komponen yang terdiri lebih dari 300 enzim. Zinc diperlukan untuk metabolisme sel, diferensiasi sel, dan pertumbuhan sel," jelas Ariani.

Dia melanjutkan, pada usus, (zinc) akan membantu membersihkan kuman, mempertahankan keutuhan ion dan membran sel, memperbaiki penyerapan air dan elektrolit, regenerasi dan pemulihan fungsi sel usus, dan meningkatkan kadar enzim.

Untuk itu, anak-anak dan balita perlu diberi zinc selama 10 hingga 14 hari ketika perawatan diare. Dosisnya, 10 miligram sekali dalam sehari untuk bayi di bawah enam bulan dan 20 miligram sekali dalam sehari setelah buang air besar untuk anak di atas enam bulan.

"Jadi kalau ke dokter, jangan minta oralit saja. Minta zinc juga,” kata dr Wiendra Waworunti, yang akrab disapa dr. Ongki, dari Kementerian Kesehatan yang juga menjadi pembicara dalam kegiatan ini.

Akan tetapi yang menjadi kendala adalah banyak masyarakat menghentikan konsumsi zinc ketika diare dirasa sudah sembuh.

Baca juga: Diare Tiap Hari, Perempuan Ini Tak Sadar Derita Kanker Kolon

“Kebanyakan orang berhenti memberikan zinc jika diare sudah berhenti meskipun belum sampai 10 hari. Padahal ini salah, kita harus menuntaskan 10 sampai 14 hari ke depan untuk dapat mencegah kembalinya diare 3 bulan ke depan,” jelas Ongki yang juga menjabat sebagai Kasubdit Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan, Kemenkes.

Selain suplemen, zinc juga dapat diperoleh melalui makanan seperti daging, ikan-ikanan, dan brokoli. Khusus brokoli, Ariani mengatakan bahwa ini merupakan sayur yang penting bagi anak karena juga mengandung omega 3 dan kalsium yang tinggi

Diare memang harus menjadi perhatian khusus bagi seluruh elemen masyarakat. Menurut data Lancet tahun 2013, Indonesia adalah salah satu dari 15 negara teratas dengan beban tertinggi diare pada balita. Lebih lanjut, prevalensi diare di antara balita adalah 14 persen dan 21 persen di antara anak-anak di bawah usia dua tahun.

Diare diketahui menjadi penyakit mematikan kedua bagi balita setelah pneumonia. Tidak hanya itu, diare pada balita dan anak-anak diketahui menjadi salah satu penyebab stunting atau gagal tumbuh kembang anak.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X