Ilmuwan AS Beri Jutaan Rupiah untuk Orang yang Mau Makan Alpukat

Kompas.com - 31/08/2018, 19:00 WIB
Ilustrasi alpukat barmaliniIlustrasi alpukat


KOMPAS.com - Sekelompok ilmuwan AS sedang mencari 1.000 orang yang bersedia memakan alpukat setiap hari. Dari kabar yang disiarkan, mereka akan diberi alpukat gratis dan dibayar 300 dollar AS atau setara Rp 4,4 juta untuk mengganti waktu yang telah mereka luangkan.

Ini merupakan penelitian gabungan yang dilakukan Loma Linda University (LLU) bersama Penn State University, Tufts University, dan University of California, Los Angeles.

"Studi ini akan meneliti apakah makan satu buah alpukat setiap hari dapat mengurangi lemak adiposa viseral di perut," ujar Dr. Joan Sabaté, seorang profesor nutrisi dan epidemiologi dari LLU, dilansir Newsweek, Kamis (30/8/2018).

Baca juga: 4 Manfaat Tersembunyi Alpukat, Salah Satunya Menjaga Kesehatan Mental

Mereka yang terpilih untuk berpartisipasi nantinya akan dibagi menjadi dua kelopok.

Kelompok pertama akan makan alpukat setiap hari selama enam bulan. Kelompok kedua akan diminta untuk makan tidak lebih dari dua alpukat selama enam bulan.

Tak hanya makan alpukat, setiap peserta juga akan melakukan pemeriksaan kesehatan gratis. Sementara itu, kelompok kontrol atau kelompok kedua juga akan diberi 24 alpukat untuk dibawa pulang di akhir penelitian.

Untuk menjadi peserta, ahli memberi beberapa syarat, di antaranya harus berusia 25 tahun ke atas, pria harus memiliki ukuran pinggang sekitar 40 inci dan untuk wanita ukuran pinggang setidaknya harus 35 inci.

Baca juga: Jangan Buang Biji Alpukat, Kandungannya Berharga seperti Permata

"Selama 20 tahun terakhir kami telah melakukan studi intervensi diet pada makanan nabati dan kacang-kacangan. Kami selalu berhati-hati dalam melakukan proyek kami," ujar Sabaté.



Sumber Newsweek
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X