Jangan Buang Biji Alpukat, Kandungannya Berharga seperti Permata - Kompas.com

Jangan Buang Biji Alpukat, Kandungannya Berharga seperti Permata

Kompas.com - 15/02/2018, 21:05 WIB
Ilustrasi alpukatbarmalini Ilustrasi alpukat

KOMPAS.com — Banyak orang suka makan alpukat karena efeknya yang mengenyangkan.

Selama ini, kita memakan alpukat hanya mengambil daging buah. Sementara biji dan kulitnya dibuang.

Temuan yang dilakukan University of Texas Rio Grande Valley mungkin dapat mengubah kebiasaan Anda makan alpukat.

Mereka mengatakan, cangkang keras yang melindungi biji alpukat mengandung lebih dari 130 zat yang dapat dijadikan revolusi obat-obatan dan berguna untuk industri.

Baca juga: Biasakan Cuci Alpukat Sebelum Dimakan

Ahli kimia Debasish Bandyopadhyay yang memimpin penelitian itu mengatakan, kandungan senyawa yang dimiliki cangkang biji alpukat meliputi docosanol atau suplemen gizi, senyawa antivirus, heptacosane untuk mengekang tumor.

Selain itu, juga ditemukan asam dodecanoic yang dapat melindungi tubuh dari aterosklerosis (penyempitan atau penebalan arteri), dan memiliki benzyl butyl phthalate untuk membuat barang plastik seperti tirai di kamar mandi yang lembut.

"Pabrik farmasi di Inggris, GlaxoSmithKline, saat ini mendapat jutaan dollar dalam setahun dari Abreva, obat demam yang memiliki kandungan docosanol," ujar Bandyopadhyay dilansir dari Seeker, (21/8/2017).

Dengan temuannya, ia percaya ada pasar besar yang dapat memanfaatkan biji alpukat sebagai obat-obatan dan bahan industri dibanding membuangnya sia-sia. Ia percaya, biji buah lainnya sangat mungkin memiliki kandungan yang dapat bermanfaat untuk tubuh.

"Apalagi, senyawa yang berasal dari alam lebih sedikit memiliki efek samping dibanding yang terbuat dari bahan kimia," sambungnya.

Baca juga: Makan Biji Aprikot untuk Lawan Kanker, Pria Ini Keracunan Sianida

Temuan ini didapat Bandyopadhyay bersama dengan mahasiswanya yang mengumpulkan lebih dari 300 alpukat. Alpukat tersebut kemudian dikeringkan, ditumbuk, dan mengeluarkan pecahan cangkang biji.

Mereka kemudian menggunakan analisis  spektrometri massa kromatografi gas, yakni proses mengubah zat menjadi uap untuk mengidentifikasi senyawa kimia di dalamnya.

Bandyopadhyay mengklaim temuan yang dilakukannya ini adalah yang pertama dilakukan. Ia berharap ada aksi lebih yang dapat menindaklanjuti temuannya.


Komentar
Close Ads X