Kompas.com - 30/08/2018, 19:54 WIB
Sejumlah petani perempuan asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sedang panen buah semangka tanpa biji beberapa waktu lalu Kompas.com/Sigiranus Marutho BereSejumlah petani perempuan asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sedang panen buah semangka tanpa biji beberapa waktu lalu

KOMPAS.com - Dana pemberdayaan perempuan masih sangat kecil, padahal peran mereka dalam isu-isu pembangunan berkelanjutan sangat krusial. Dalam adaptasi perubahan iklim misalnya, kesuksesannya salah satunya ditentukan oleh pengetahuan perempuan. Menurut Badan Pangan Dunia (FAO), 43 persen pekerja pertanian adalah perempuan.

Sayangnya, studi Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan atau Kemitraan di 4 kota di Indonesia menunjukkan, investasi pada perempuan hingga kini masih rendah. Studi tahun 2017 di Kota Pekalongan, Kabupaten Kebumen di Jawa Tengah, Kabupaten Pulang Pisau di Kalimantan Tengah, serta Kabupaten Donggala di Sulawesi Tengah mengungkap, investasi daerah bagi perempuan per individu per bulan bahkan lebih rendah dari sekilo beras.

“Yang paling miris, di Kebumen, investasi perempuan hanya Rp 95 per perempuan per bulan. Nilai yang 10 tahun yang lalu pun tak bisa untuk membeli permen,” kata Arif Nurdiansah, peneliti tata kelola perubahan iklim Kemitraan lewat surat elektronik kepada Kompas.com, Rabu (30/8/2018).

Baca juga: Studi Ungkap Plastik Turut Sebabkan Perubahan Iklim

Di Kota Pekalongan, investasinya sebesar Rp 2.495, Kabupaten Donggala sebesar Rp 3.454, dan Kabupaten Pulang Pisau Rp 5.211.

Kemitraan mencatat, komitmen investasi pemberdayaan perempuan ditentukan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah jumlah perempuan yang menduduki jabatan struktural di birokrasi dan jabatan legislatif di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Kota Pekalongan menjadi satu-satunya wilayah yang jumlah perempuan di jabatan strukturalnya melampaui angka afirmatif, 34 persen.

“Namun, karena jumlah perempuan di DPRD hanya 5 orang dari total 30 anggota, maka komitmen anggaran pemberdayaan perempuannya masih tergolong minim,” kata Arif.

Investasi pada perempuan perlu ditingkatkan. Pasalnya, di tengah dampak perubahan iklim, perempuan menanggung beban lebih berat.

Selain sektor pertanian yang terdampak, banjir rob di Pekalongan sebagai dampak perubahan iklim juga membuat perempuan memiliki jam tidur lebih pendek, mudah terserang penyakit dan berpotensi menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.

Selain investasi, pemahaman perempuan terhadap isu perubahan iklim juga perlu ditingkatkan agar dapat berdaya. Karena selain sebagai korban yang terdampak, mereka juga berpotensi menjadi aktor pencegah yang mampu mengurangi dampak perubahan iklim.

Baca juga: Perubahan Iklim Bikin Gizi dalam Padi Menurun Drastis

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.