Mengenal Sesar Naik Flores dan Amukannya yang Picu Serial Gempa Lombok

Kompas.com - 20/08/2018, 20:23 WIB
Sunda Banda Arc terbagiu menjadi tiga segmen, Jawa Timur, Sumba, dan Timor. Bagian utara dari Sunda Banda Arc terdapat segmen-segmen aktif yang saling berkesinambungan, salah satunya sesar Kendeng. Geosphysical Research LetterSunda Banda Arc terbagiu menjadi tiga segmen, Jawa Timur, Sumba, dan Timor. Bagian utara dari Sunda Banda Arc terdapat segmen-segmen aktif yang saling berkesinambungan, salah satunya sesar Kendeng.

KOMPAS.com – Selang dua minggu setelah gempa bermagnitudo 7,0, gempa berkekuatan besar kembali mengguncang Lombok pada Minggu (19/08/2018) malam.

Gempa yang terjadi semalam bermagnitudo 6,9. Daryono, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, gempa itu baru, bukan susulan dari gempa sebelumnya.

Ia menambahkan, kedua gempa disebabkan oleh sumber yang sama, yaitu Sesar Naik Flores atau Flores Back Arc Thrust.

Dalam kurun waktu beberapa waktu belakangan, sesar tersebut telah menyebabkan sejumlah gempa besar, masing-masing bermagnitudo masing-masing 6,4; 7,0; 6,3; dan 5,9. Daryono menyebut, aktivitas sesar itu memicu "multiplet gempa". 

Mengamuk

Sejarah mencatat, Sesar naik Flores pernah memicu gempa-gempa besar sejak ratusan tahun lalu. Gempa tertua yang tercatat bermagnitudo 7, mengguncang Bali dan Nusa Tenggara pada 22 November 1815. Gempa tersebut memicu tsunami.

Baca juga: 7 Fakta Tentang Gempa Berkekuatan M 7 yang Kembali Guncang Lombok

Gempa selanjutnya yang pernah dipicu oleh sesar tersebut bermagnitudo 7,5, merusak Bima pada 28 November 1836.

Selang beberapa bulan, pada 18 Mei 1857, Sesar naik Flores memicu gempa mermagnitudo 7. Gempa tersebut mengguncang Bali dan Nusa Tenggara serta kembali memicu tsunami. Korban dan kerusakan belum terdokumentasi dengan baik saat itu.

Aktivitas sesar itu mulai tercatat setelah Indonesia memiliki seismograf. Pada 14 Juli 1976, Sesar Naik Flores memicu gempa bermagnituo 6,6, mengguncang Seirit, Bali.

Gempa itu menelan 559 korban jiwa dan merusak 67.419 rumah. Terakhir sebelum rentetan gempa pada 2018 ini, sesar itu mengguncang Flores pada 12 Desember 1992, mengakibatkan 2.500 orang meninggal dunia.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X