Buka Hakteknas, Menristek dan BJ Habibie Sampaikan Pesan Berikut - Kompas.com

Buka Hakteknas, Menristek dan BJ Habibie Sampaikan Pesan Berikut

Kompas.com - 10/08/2018, 18:08 WIB
M Nasir, Menristek dan Dikti, secara resmi membuka kegiatan Hakteknas, di Riau, Kamis (09/08/2018). Acara puncak dari Hakteknas akan diadakan besok 10 Agustus 2018.Photographer: Bhakti Satrio M Nasir, Menristek dan Dikti, secara resmi membuka kegiatan Hakteknas, di Riau, Kamis (09/08/2018). Acara puncak dari Hakteknas akan diadakan besok 10 Agustus 2018.

PEKANBARU, KOMPAS.com – Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ( Hakteknas) resmi dibuka di Pekanbaru, Riau, Kamis (09/08/2018). Pada pertemuan ke-23 ini, Hakteknas mengambil tema inovasi kemandirian pangan dan energi dengan sub tema sektor pangan dan energi di era revolusi industri 4.0.

Acara ini dibuka  oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, dan Presiden ke-3 Indonesia, BJ Habibie.

Kegiatan ilmiah ini bertujuan untuk membangun jaringan sesama peneliti, perekayasa, dosen dan komunitas IPTEK dan inovasi lainnya sebagai upaya penyebarluasan informasi terkait kebijakan program prioritas, program dana, capaian pembangunan IPTEK, dan inovasi anak bangsa.

Lebih dari itu, Hakteknas juga sebagai wadah pemaparan hasil riset inovasi teknologi dalam rangka membangun intermediasi antara perguruan tinggi dan Litbang, dunia usaha dan masyarakat.

Kata inovasi dan riset menjadi poin penting dalam pertemuan ini. Menurut Mohamad Nasir, tidak ada inovasi tanpa melakukan riset, dan ini adalah masalah utama dalam menghasilkan inovasi.

Menurut Nasir, peneliti yang melakukan riset sering menemui permasalahan administrasi seperti biaya perjalanan dinas, alat tulis kantor, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan hasil riset peneliti Indonesia pada publikasi internasional pada tahun 2015 hanya berjumlah 5.400 publikasi.

“Dengan beberapa hal yang perlu kami lakukan perbaikan kebijakan, yaitu bersama Menteri Keuangan, keluarlah Permen Keuangan 106 tahun 2016, di mana research, yang tadinya para peneliti disibukkan dengan pertanggungjawaban keuangan; dengan keluarnya peraturan itu, riset sekarang berbasis pada output, publikasi internasional, prototype, dan hasilnya adalah inovasi,” ungkap Nasir saat membuka kegiatan ini.

Namun demikian, para peneliti tidak serta merta dapat dengan bebas melakukan penelitian. Terdapat pemetaan penelitian yang ditetapkan antara Kementerian dan Lembaga yang berdasarkan Perpres nomor 38 tahun 2018.

Nasir menjelaskan, ada 10 sektor yang dapat dieksplorasi: pangan dan pertanian, kesehatan, Information and communication technology, transportasi, teknologi maju, teknologi pertahanan, reliable energy, maritime, disaster management, serta sosial, humaniora, kebudayaan, dan edukasi.

Dengan ini, Nasir berharap para peneliti fokus terhadap bidang-bidang penelitian yang sudah disepakati bersama antara kementerian dan lembaga. Lebih lanjut, ia berharap ke depannya Indonesia bisa mengandalkan teknologi dan ilmu pengetahuan sebagai dasar pertumbuhan ekonominya.

BJ Habibie, yang hadir dalam pembukana Hakteknas ke 23 di Riau, turut menyampaikan pesannya kepada peserta.Photographer: Bhakti Satrio BJ Habibie, yang hadir dalam pembukana Hakteknas ke 23 di Riau, turut menyampaikan pesannya kepada peserta.

Sependapat dengan Nasir, Presiden RI ketiga BJ Habibie yang menjadi keynote speaker pada acara ini turut menyampaikan perspektifnya. Ia menjelaskan bahwa riset dan inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi dan lembaga litbang harus sesuai dengan kebutuhan industri.

Lebih jauh, Habibie menerangkan bahwa kemampuan anak bangsa dalam penguasaan teknologi telah terkonfirmasi oleh keberhasilan penerbangan perdana pesawat N-250 Gatotkaca yang diproduksi di IPTN Bandung pada tanggal 10 Agustus 1995 dan dibuat anak bangsa.

“Kita konsolidasi, lebih kerja sama, bekerja sebagai satu tim, dari Sabang sampai Merauke, kita arahkan kepada kebutuhan rakyat. Itu akan berkembang jikalau kita mengembangkan dasar-dasar pikiran dari ekonomi pasar Pancasila,” tutup Habibie.



Close Ads X