Peneliti Australia Ciptakan Terobosan Bahan Bakar Hidrogen dari Amonia

Kompas.com - 08/08/2018, 11:17 WIB
Scott Nargar dari Hyundai sedang mengisi bahan bakar hidrogen di lokasi penelitian CSIRO di Brisbane. Scott Nargar dari Hyundai sedang mengisi bahan bakar hidrogen di lokasi penelitian CSIRO di Brisbane.

BRISBANE, KOMPAS.com - Dua mobil berbahan bakar hidrogen dari amonia diujicobakan di Brisbane, Australia hari Rabu (8/8/2018).

Penggunaan hidrogen dari amonia sebagai bahan bakar kendaraan merupakan terobosan pertama di dunia yang dilakukan peneliti dari lembaga penelitian CSIRO.

Peneliti CSIRO Michael Dolan mengatakan pihaknya sangat senang karena penelitian selama satu dekade ini akhirnya membuahkan hasil.

Selama satu dekade terakhir, peneliti berupaya memproduksi hidrogenkemurnian ultra-tinggi dengan menggunakan teknologi membran tersendiri.

Terobosan teknologi membran ini memungkinkan hidrogen diangkut dengan aman dan digunakan sebagai sumber energi produksi massal.

"Jelas kami menjadi yang pertama menghasilkan produksi hidrogen dari amonia yang sangat bersih," jelas Dr Dolan.

"Hari ini untuk pertama kalinya di dunia mobil hidrogen digerakkan oleh bahan bakar yang berasal dari amonia. Inilah bahan bakar yang bebas karbon," sambungnya.

Dr David Harris, pemimpin program ini mengatakan, Australia memang memiliki sumber energi terbarukan berupa sinar matahari dan angin yang dapat dimanfaatkan menghasilkan hidrogen.

Namun masalahnya, unsur ini sangat mudah terbakar sehingga sulit untuk dikirim jarak jauh karena kepadatannya yang rendah.

Peneliti CSIRO menemukan cara mengubah hidrogen buatan Australia menjadi amonia. Artinya, bahan bakar ini dapat dikirim dengan aman ke Asia atau lokasi lain.

Amonia itu dapat diubah kembali menjadi hidrogen dengan menggunakan membran temuan mereka. Selanjutnya, bisa dijadikan bahan bakar untuk mobil bertenaga hidrogen.

Baca juga: Menurut Sains, Bir Bisa Jadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan. Benarkah?

Hingga kini, hanya ada lima buah mobil seperti itu di Australia. Namun di Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, jumlahnya sudah puluhan ribu.

Halaman:



Close Ads X