Gempa Lombok: Seberapa Besar Potensi Bencana di Indonesia? - Kompas.com

Gempa Lombok: Seberapa Besar Potensi Bencana di Indonesia?

Kompas.com - 07/08/2018, 11:33 WIB
Lokasi gempa di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Senin (6/8/2018) pukul 22.50 WIB.USGS Lokasi gempa di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Senin (6/8/2018) pukul 22.50 WIB.

KOMPAS.com - Gempa yang mengguncang Lombok Minggu (05/08/2018) membuat masyarakat kembali bertanya-tanya seberapa besar potensi bencana alam ini terjadi di Indonesia?

Apalagi jika melihat ke belakang, Indonesia beberapa kali diguncang gempa besar yang menyebabkan tsunami. Di antaranya gempa Aceh pada 2004 dan gempa Padang tahun 2009.

Para ahli mengatakan, apabila dilihat secara geologi, baik dari lempengan dan patahan yang ada, gempa memang sudah pasti akan terjadi di Indonesia.

"Wilayah Indonesia itu sangat berpotensi terjadi gempa bumi karena posisinya yang berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Eurasia, Indoaustralia dan Pasifik," ungkap Daryono, kepala bidang informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Dari tumbukan ini terimplikasi adanya sekitar enam tumbukan lempeng aktif yang berpotensi memicu terjadinya gempa kuat," sambungnya.

"Wilayah Indonesia juga sangat kaya dengan sebaran patahan aktif atau sesar aktif. Ada lebih dari 200 yang sudah terpetakan dengan baik dan masih banyak yang belum terpetakan sehingga tidak heran jika wilayah Indonesia itu dalam sehari itu lebih dari 10 gempa yang terjadi," Daryono menambahkan.

Sejumlah patahan aktif tersebut adalah patahan besar Sumatra yang membelah Aceh sampai Lampung, sesar aktif di Jawa, Lembang, Jogjakarta, di utara Bali, Lombok, NTB, NTT, Sumbawa, di Sulawesi, Sorong, Memberamo, di samping di Kalimantan.

Posisi Indonesia dikenal berada di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yaitu daerah "tapal kuda" sepanjang 40.000 km yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik.

Sekitar 81 persen dari gempa bumi terbesar terjadi di sepanjang Cincin Api ini.

Baca juga: Potensi Tsunami Gempa Lombok, Ini Pelajaran Mitigasi yang Bisa Diambil

"Mungkin kalau kita melihat ke dunia, itu kelihatan bahwa Indonesia itu sangat merah dibandingkan dengan yang lain," kata Danny Hilman Natawidjaja, peneliti utama bagian geologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"Jepang, misalnya merah juga, Filipina saya pikir merah juga. California itu merah juga karena disitu ada zona San Andreas Fault yang besar dan bergerak sangat cepat," tambahnya.

Perbandingan Indonesia dengan bagian lain dunia dilakukan dengan menggunakan global seismic hazard atau bahaya seismik global, Danny menjelaskan.

"Zonasi seismic hazard itu sudah, yang dia representasikan adalah potensi guncangan gempanya, yang direpresentasikan dengan nilai percepatan gravitasi, G, makin tinggi yah makin banyak guncangannya," ujar Danny.

"Nilai G lebih dari 5 menjadi merah. Nilai 3 dengan 5, kuning. Yang ada di bawahnya hijau biru dan sebagainya. Itu kelihatan bahwa Indonesia itu sangat merah dibandingkan dengan yang lain," Danny menambahkan.

Selalu Banyak Korban

Gempa di Lombok beberapa hari yang lalu telah menyebabkan banyak korban meninggal, di samping ribuan orang harus mengungsi.

Sementara gempa Aceh 2004 yang berkekuatan 9,3 pada skala Richter, menyebabkan 180 ribu orang meninggal dengan kerugian Rp 45 triliun.

Jadi apakah kerugian, termasuk kerugian material seperti rumah, jalan, jembatan, dan sebagainya akan terus terjadi mengingat tingginya potensi terjadinya gempa di Indonesia?

"Masyarakat kita akan terus menjadi korban setiap terjadinya gempa karena kita juga tidak melihat langkah-langkah konkret yang benar-benar, semacam juklak bagaimana membangun bangunan tahan gempa itu diedukasikan secara masif sehingga masyarakat kita benar-benar memahami dan kemudian mindset itu berubah," kata Dr Daryono.

Baca juga: Bagaimana Pengaruh Gempa Lombok terhadap Gunung Api di Sekitarnya?

Sementara penduduk dan bangunan di Jawa dan Sumatra juga lebih padat dibandingkan di bagian timur Indonesia.

Ini menyebabkan kemungkinan risiko korban dan kerusakan yang lebih besar.

"Kalau kita lihat dari potensi hazard-nya, bahayanya, Indonesia timur itu dua kali lipat potensinya dibandingkan dengan wilayah barat, tetapi yang nama risiko itu kan juga mempertimbangkan keberadaan populasi dan infrasturktur," tutur Danny.

"Untuk saat ini infrastruktur dan populasi kebanyakan di Jawa dan Sumatra, daerah Papua dan Maluku kan masih sedikit," imbuhnya.

Melek Mitigasi

Mengingat besarnya potensi dan risiko gempa di Indonesia serta catatan sejarahnya, bukankah langkah pencegahan seharusnya sudah diambil?

Pemerintah mengatakan berbagai cara untuk mengantisipasi bencana alam ini telah dilakukan, termasuk dengan menggunakan teknologi tinggi.

"Sistem monitoring gempa bumi, sistem processing dan diseminasi penyebaran itu sudah sangat bagus," kata Daryono.

"(Dengan teknologi tersebut) dalam waktu kurang dari tiga menit itu sudah bisa mendapatkan informasi parameter gempa, waktu gempa, kekuatan, kedalaman, dan lokasinya. Kita juga bisa mengeluarkan peringatan dini tsunami dengan cepat," tegasnya.

Tahun 2017, Indonesia telah merevisi peta seismic hazard, di mana seluruh wilayah sudah dizonasi dan dikuantifikasi terkait seberapa besar potensi guncangan seismiknya.

"Berdasarkan peta itu seorang ahli sipil bisa mendesain struktur tahan gempa yang cocok untuk seluruh wilayah di Indonesia," ujar Danny.

Baca juga: Dua Gempa Besar dalam Sepekan di Lombok, Ini Penyebabnya Menurut LIPI

"Kalau semua orang dan semua bangunan mengikuti serta mematuhi peraturan yang ada, saya pikir nggak ada masalah kapan ada gempa terjadi karena yang paling berbahaya waktu gempa itu bukan gempanya tetapi bangunan yang roboh," Danny menegaskan.

Jadi mengapa masyarakat tetap menjadi korban setiap terjadi gempa?

"Masih jauh urusan awareness, urusan pemahaman. Mereka belum siap. Kenapa mereka belum siap? Mereka tidak tahu informasinya. Sangat sedikit masyarakat dari kami yang tahu. Tahu tentang itu wilayah gempa atau tahu disitu ada ancaman gempa, itu sangat sedikit," kata Hening Parlan dari Lembaga Lingkungan Hidup dan Bencana, Aisyiyah.

"Mereka juga tidak tahu bagaimana cara untuk menanggulangi kalau itu terjadi," sambung perempuan yang telah mengamati topik keberdayaan masyarakat dalam mengatasi bencana alam, seperti gempa selama 20 tahun terakhir.



Close Ads X