Potensi Tsunami Gempa Lombok, Ini Pelajaran Mitigasi yang Bisa Diambil - Kompas.com

Potensi Tsunami Gempa Lombok, Ini Pelajaran Mitigasi yang Bisa Diambil

Kompas.com - 06/08/2018, 17:35 WIB
IlustrasiStockSnap/Pixabay Ilustrasi

KOMPAS.com - Gempa bermagnitudo 7 mengguncang Lombok pada Minggu (05/08/2018) malam. Gempa ini juga berpotensi tsunami.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran terutama di pulau-pulau kecil sekitarnya, seperti Gili Trawangan dan Gili Air.

Sekitar 1.000 turis asing maupun domestik telah dievakuasi dari wilayah tersebut.

Meski begitu, jika hal ini terjadi lagi, bagaimana langkah aman yang harus dilakukan masyarakat jika kasus ini terulang kembali?

Menurut Widjo Kongko, peneliti Tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), pantai utara Bali, NTB, dan NTT rentan terhadap tsunami dari aktivitas tektonik busur belakang (back-arc).

"Oleh karena itu, harus disiapkan betul mitigasi tsunaminya berupa shelter sementara yang cukup tinggi dari jangkauan tsunami," kata Widjo kepada Kompas.com melalui pesan singkat, Senin (06/08/2018).

Widjo juga menyebut peringatan dini mandiri berdasarkan guncangan yang dirasakan lebih disarankan dibanding menunggu perangkat early warning system (EWS).

"Karena sumber tsunami relatif dekat dengan pantai," sambungnya.

Sedangkan untuk penentuan titik-titik evakuasi sementara, yaitu bangunan di tempat tinggi atau bukit, Widjo mengingatkan perlunya kajian mitigasi yang lebih detail.

"(Kajian) yang ada saat ini belum atau tidak ada yang detail," ungkapnya.

Widjo juga mengingatkan bahwa para pelaku industri pariwisata di Lombok perlu melek dengan program mitigasi dan mengambil peran.

Baca juga: Ini Cara Pakar Susun Mitigasi Bencana seperti Potensi Tsunami 57 Meter

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Rahman Hidayat, Asisten Deputi Bidang Infrastruktur Pelayaran, Perikanan dan Pariwisata Kemenko Bidang Kemaritiman.

Dia mengatakan bahwa perlunya pengetahuan mitigasi bencana di semua sektor, termasuk pariwisata.

"Secara khusus, sepengetahuan saya, belum ada pengarusutamaan tentang mitigasi bencana khusus dari kalangan, baik regulator dan operator (praktisi), pariwisata," ujar Rahman melalui sambungan telepon.

"Kalau dikatakan penting, ya tentu penting. Tidak hanya industri pariwisata, tapi semua sektor terkait," jelasnya.

Rahman menjelaskan, bahwa sebenarnya sudah ada regulasi yang mengharuskan penataan ruang kota pun berbasis mitigasi bencana.

"Artinya, kalau sektor itu, misalnya ketika suatu tempat itu bagian dari destinasi pariwisata, hal-hal yang terkait mitigasi harusnya sudah ada," kata Rahman.

Meski begitu, Rahman tidak menampik bahwa mitigasi belum sepenuhnya menjadi fokus para pelaku industri pariwisata.

Untuk itu, Rahman mengatakan perlunya kesadaran bersama bahwa hampir keseluruhan wilayah Indonesia berada di ring of fire. Artinya, potensi gempa selalu ada hampir di semua wilayah negara kita.

"Secara khusus, harusnya memang praktisi menyadari terhadap destinasi-destinasi baru pariwisata memperhatikan hal ini," tegasnya.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X