Kompas.com - 24/07/2018, 12:07 WIB
Ilustrasi tinggi badan anak ChoreographIlustrasi tinggi badan anak

KOMPAS.com – Stunting termasuk dalam gangguan pertumbuhan pada anak. Kondisi stunting biasanya ditandai dengan pertumbuhan tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan usianya. Untuk itu, mengenali kondisi anak semenjak usia dini dinilai sangat penting.

“Dua tahun pertama di masa optimal pertumbuhan anak kita harus sering medekteksi pertumbuhan anak ini bagus atau tidak. Karena kalau di dua tahun pertama ini sudah tidak bagus pertumbuhannya, baik berat badan atau tinggi badannya, ada kemungkinan itu bisa terus sampai masa kanak-kanaknya,” ujar dr Eva Devita Harmoniati SpA(K).

Eva menjelaskan, stunting bisa disebabkan oleh faktor nutrisi dan penyakit kronis pada anak.

Nutrisi dan penyakit kronis dalam hal stunting sangat berkaitan. Ini karena kondisi stunting yang disebabkan penyakit kronis membuat nutrisi yang masuk ke tubuh anak digunakan untuk menjadi lawan penyakit tersebut.

Baca juga: Benarkah Mitos Nanas dan Mentimun Bikin Perempuan Indonesia Stunting

“Bisa TBC, cacingan, infeksi saluran kemih, (pokoknya) sifat infeksinya lama, kalau penyakitnya berlangsung lama, otomatis asupan nutrisi yang tadinya untuk tumbuh, digunakan untuk melawan penyakit tersebut. Sehingga nutrisinya tidak optimal,” jelas Eva.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun demikian, faktor penyakit kronis tidak selalu menjadi penyebab stunting. Gizi yang buruk juga mempunyai peran munculnya kondisi tersebut.

Dampak dari stunting adalah dapat menyebabkan tubuh anak lebih pendek dari anak lain seusianya.

Selain itu, menurut Eva, anak stunting tidak hanya pendek, prestasinya juga bisa jadi tidak sebaik anak yang pertumbuhannya normal. Hal ini karena gizi yang diberikan kepada anak tidak hanya digunakan untuk pertumbuhan berat dan tinggi badan, melainkan sebagai penunjang pertumbuhan otak juga.

Kondisi stunting seharusnya tidak memupuskan asa orangtua untuk melihat anaknya tumbuh optimal dengan prestasi yang gemilang.

Baca juga: Awas Stunting, Orangtua Wajib Amati Kenaikan Berat Badan Anak

“Kalau penyakitnya ditangani dengan baik, nutrisnya diperbaiki, anak itu bisa kembali naik tinggi badannya. Ke arah yang normal,” jelas Eva saat ditemui di RSAB Harapan Kita, Senin (23/07/2018).

Hal yang perlu diperhatikan untuk menghindari stunting adalah kondisi tubuh dan kesehatan anak pada rentang usia nol sampai dua tahun. Sebab, pada usia tersebut; sel-sel otak, saraf, dan fungsi kognitif berkembang sangat pesat.

Bila terlambat, Eva khawatir penanganannya akan lebih sulit. “Akan lebih susah penanganannya, tapi kalau di dua tahun pertama anak ini mengalami stunting, kita bisa perbaiki dengan lebih mudah,” jelasnya.

Ia menambahkan, komposisi makanan yang meandung karbohidrat dan protein harus cukup, karena itu adalah zat pembangun yang diperlukan untuk menambah komposisi tubuh anak.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Oh Begitu
Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Oh Begitu
Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Fenomena
Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Oh Begitu
Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Fenomena
5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

Kita
Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Fenomena
5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

Kita
Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Fenomena
Fakta-fakta Tikus Mondok Hidung Bintang, Pemangsa Tercepat di Dunia

Fakta-fakta Tikus Mondok Hidung Bintang, Pemangsa Tercepat di Dunia

Oh Begitu
12 Negara Laporkan Kasus Varian Omicron, dari Italia hingga Australia

12 Negara Laporkan Kasus Varian Omicron, dari Italia hingga Australia

Oh Begitu
Gunung Kilauea, Gunung Berapi Paling Aktif yang Meletus Setiap Tahun

Gunung Kilauea, Gunung Berapi Paling Aktif yang Meletus Setiap Tahun

Oh Begitu
Bukan Isap Serbuk Sari, Spesies Lebah Ini Berevolusi Makan Daging

Bukan Isap Serbuk Sari, Spesies Lebah Ini Berevolusi Makan Daging

Oh Begitu
Ameer Azzikra Meninggal Dunia karena Pneumonia, Begini Cara Mencegah Penyakit Ini

Ameer Azzikra Meninggal Dunia karena Pneumonia, Begini Cara Mencegah Penyakit Ini

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.