Bukti Baru, Gelombang Panas Bikin Otak Susah Berpikir - Kompas.com

Bukti Baru, Gelombang Panas Bikin Otak Susah Berpikir

Kompas.com - 12/07/2018, 17:32 WIB
Warga, termasuk anak-anak, melawan cuaca panas dengan bermain air di pancuran Place des Arts di Montreal, Kanada, pada 3 Juli 2018.AFP / EVA HAMBACH Warga, termasuk anak-anak, melawan cuaca panas dengan bermain air di pancuran Place des Arts di Montreal, Kanada, pada 3 Juli 2018.


KOMPAS.com - Ahli dari Harvard membuktikan gelombang panas berdampak pada kemampuan berpikir manusia, termasuk orang sehat.

Selama ini, penelitian tentang efek gelombang panas pada kesehatan lebih banyak menyoroti orang-orang yang lemah dan rapuh seperti lansia. Jarang ada penelitian yang membahas dampaknya bagi orang sehat.

Sebab itu, para ilmuwan dari Harvard T.H Chan School of Public Health meneliti siswa yang tinggal di asrama untuk menjawab hal tersebut.

Dalam laporan yang terbit di jurnal PLOS Medicine, Selasa (10/7/2018), ahli menemukan siswa yang tinggal di asrama dengan pendingin udara atau AC, nilainya lebih tinggi dibanding yang tidak.

Baca juga: Heboh Isu Gelombang Panas Ancam Indonesia, BMKG Beri Penjelasan

"Kami mempelajari siswa dalam kondisi sehat yang tinggal di asrama sebagai intervensi alami selama gelombang panas di Boston," ujar Jose Guillermo Cedeño-Laurent dalam sebuah pernyataan dilansir Newsweek, Rabu (11/7/2018).

"Penting untuk mengetahui efek peningkatan panas yang disebabkan perubahan iklim di seluruh lapisan masyarakat," imbuhnya.

Penelitian yang dilakukan pada musim panas 2016 ini melibatkan 44 siswa Boston, di mana 24 siswa tinggal di gedung ber-AC dan sisanya tidak menggunakan AC.

Masing-masing kamar asrama juga dipasangi alat yang dapat memantau suhu selama periode 12 hari.

Lima hari pertama suhunya normal, kemudian datang gelombang panas selama lima hari, dan dua hari terakhir suhunya turun.

Setiap hari setelah bangun tidur, para siswa ini harus menjawab tes kognitif yang sudah disediakan di smartphone masing-masing. Ada dua tes yang harus mereka kerjakan.

Pertama, mereka diminta mengidentifikasi warna dalam kata, contoh ada kata bertuliskan "merah" yang dicetak dengan warna biru, peserta diminta untuk menuliskan warna apa yang dilihatnya.

Kedua, tes terdiri dari pertanyaan aritmatika dasar dan digunakan untuk menilai kecepatan mental dan memori.

Baca juga: Ratusan Kelelawar Australia Mati Terpanggang Gelombang Panas

Hasilnya, selama ada gelombang panas siswa yang tinggal di asrama tanpa AC memiliki nilai yang lebih buruk dibanding siswa yang tinggal di ruangan ber-AC. Selain nilai, mereka juga mengalami penurunan dalam tes kecepatan mental dan memori.

Anehnya, perbedaan terbesar dalam fungsi kognitif antara kedua kelompok itu terjadi saat hari-hari dingin usai gelombang panas terjadi.

Peneliti menemukan, saat suhu di luar ruangan mulai mereda, suhu di dalam ruangan tanpa AC tetap tinggi. Inilah yang menjadi penyebabnya.

" Suhu di dalam ruangan tetap tinggi meski suhu di luar ruangan sudah turun. Ini memberi kesan palsu, bahaya terlihat sudah berlalu padahal gelombang panas di dalam ruangan masih berlanjut," imbuh Joseph Allen, rekan peneliti sekaligus asisten profesor dari Center for Climate, Health, and the Global Environment di Harvard Chan School.

"Di negara tertentu dengan iklim yang sangat dingin, bangunan dirancang agar bisa mempertahankan panas. Namun, bangunan-bangunan ini mengalami kesulitan membuang suhu panas selama terjadi gelombang panas yang diciptakan perubahan iklim," ujarnya.

Lewat penelitian ini, mungkin saja akan ada rancangan bangunan yang dapat mempertahankan dan mengeluarkan panas dengan efektif.


Komentar
Close Ads X