Kompas.com - 26/06/2018, 20:07 WIB
Ilustrasi sampah plastik. ThinkstockIlustrasi sampah plastik.

KOMPAS.com - Untuk waktu yang cukup lama, China telah menjadi "tempat pembuangan sampah" limbah-limbah plastik dari seluruh dunia.

Hal ini bermula ketika pada tahun 1990-an, China melihat bahwa plastik bekas dapat didaur ulang menjadi material yang lebih berharga.

Sejak itulah timbal balik terjadi. China mendapatkan kiriman limbah dari berbagai negara, sedangkan negara lain bisa bernapas lega karena menyingkirkan limbah tanpa harus repot mengolahnya dengan biaya yang mahal.

Namun pada November 2017, China menyatakan cukup. Negara tersebut menutup pintu impor limbah plastik.

Baca juga: Resmi Sudah, Alam Liar Terakhir Bumi Terkontaminasi Plastik

Berita tersebut sontak membuat banyak pihak terkejut karena efeknya tidak main-main.

Berdasarkan makalah yang diterbitkan di jurnal Science Advances, tanpa adanya peran China dalam menampung limbah plastik; pada tahun 2030 nanti, akan ada sekitar 111 juta metrik ton sampah, termasuk di antaranya sedotan, tas, serta botol air, yang tidak memiliki tujuan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Meskipun ini adalah kebijakan baru China, namun ini tidak benar-benar salahnya (China). Sebab China telah mengimpor limbah plastik selama 28 tahun terakhir," kata Amy Brooks, peneliti sekaligus mahasiswa pascasarjana di University of Georgia.

"Dan setelah bebrapa waktu, mereka menyadari bahwa dunia bergantung pada mereka untuk mengelola limbah," tambahnya.

Sebagai  informasi, pada tahun 2016 selain mengolah limbahnya sendiri, China mengolah sampah dari 43 negara lain. Negara-negara berpenghasilan tinggi bertanggung jawab atas hampir 90 persen ekspor plastik sejak tahun 1988. Uni Eropa adalah eksportir teratas, diikuti oleh Amerika Utara dan Jepang.

Baca juga: Ribuan Sampah plastik Ada di Titik Terdalam Lautan, Ini Artinya

Parahnya lagi, studi Brooks juga mengungkap jika 90 persen plastik yang digunakan saat ini merupakan polimer sekali pakai.

Jelas, dengan berlakunya kebijakan ini akan membuat plastik-plastik dari negara asal terus menerus bertumpuk tanpa adanya pengolahan. Opsi lain yang mungkin bisa dilakukan adalah membakarnya atau menguburnya.

Namun lagi-lagi tanpa penanganan yang tepat, ada kemungkinan juga limbah bocor dan mencemari lingkungan.

Brooks pun berharap, kejadian ini akan membuka mata banyak negara untuk merencanakan pengolahan limbah yang lebih baik di masa depan, termasuk juga menerapkan peraturan untuk mengurangi plastik sekali pakai. Sebab masa depan planet ini tergantung dari kita.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.