India Pertimbangkan Tender Ambisius Tenaga Surya 100 Gigawatt

Kompas.com - 26/06/2018, 17:33 WIB
Suasana jalan di New Delhi yang diselimuti kabut tebal akibat polusi terparah, Selasa (7/11/2017). (AFP/Prakash Singh) Suasana jalan di New Delhi yang diselimuti kabut tebal akibat polusi terparah, Selasa (7/11/2017). (AFP/Prakash Singh)

KOMPAS.com – Baru-baru ini, menteri energi India RK Singh berkata bahwa negara tersebut sedang mempertimbangkan untuk membuka untuk tenaga surya sebanyak 100 gigawatt (GW).

Padahal, India telah berambisi untuk mencapai kapasitas surya sebanyak 100 GW dalam energi terbarukan 175 GW pada 2022. Jika tender yang diisukan ini benar terjadi, 100 GW tersebut akan masuk dalam target tahun 2030 atau 2035.

Menurut The Economic Times, target yang sudah ada saat ini sudah sangat ambisius.

Mereka pun menyangsikan India yang kini hanya punya kapasitas tenaga surya sebanyak 24,4 GW untuk dapat merealisasikan target yang baru, meskipun pertumbuhan kapasitas tenaga surya dalam skala utilitas di negara tersebut naik 72 persen dibanding tahun sebelumnya.

Baca juga: Peta Udara India Terlihat Berbeda dari Antariksa, Apa Sebabnya?

Meski demikian, beberapa pakar, seperti Johannes Urpelainen, cukup optimis dengan langkah India.

Peneliti dari Columbia University Center on Global Energy Policy yang berbasis di India ini berkata bahwa tender 100 GW tersebut bukan untuk satu tempah pengolahan besar, melainkan untuk berbagai proyek kecil.

Kepada Ars, Minggu (24/6/2018); Urpelainen berkata bahwa tenaga surya sebetulnya sangat populer dan tidak dianggap mahal di India.

“Aku sudah bolak-balik ke India selama enam tahun terakhir, dan pada 2012 tenaga surya sangat langka. Kini, (tenaga surya) di mana-mana,” ujarnya.

Selama ekonomi India terus bertumbuh, Urpelainen yakin bahwa tender 100 GW akan bisa dilaksanakan.

Baca juga: Setelah Tiangong-1, Roket India Diprediksi Jatuh di Wilayah Indonesia

“Pada saat ini, biaya untuk tender 100 GW 100 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.417 triliun). Tapi biaya energi terbarukan akan terus turun,” katanya.

Dia melanjutkan, tetapi kalau pemerintah (India) ngotot memproduksinya secara domestik, harganya bisa lebih tinggi karena harus bersaing dengan panel-panel dari China yang lebih murah.

Sebetulnya, seperti yang dikatakan oleh Singh, India darurat energi terbarukan. Setidaknya 20 kota India masuk daftar kota paling berpolusi di dunia.

Hal ini karena pertumbuhan ekonomi India yang eksplosif meningkatkan konsumsi batu bara di negara tersebut dan menghasilkan polusi luar biasa. Pada tahun lalu saja, India menambahkan kapasitas energi batu bara sebanyak 4,6 GW.

Jika target-target yang ambisius di atas tercapai, bukan tidak mungkin masalah polusi ini akan selesai dan wajah India berubah 180 derajat.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X