Einstein Terbukti Benar, Teori Relativitas Umum Bekerja di Galaksi Lain

Kompas.com - 22/06/2018, 20:33 WIB
Teleskop Hubble tangkap Cincin Einstein Teleskop Hubble tangkap Cincin Einstein

KOMPAS.com - Para ilmuwan dunia baru saja memvalidasi teori relativitas umum milik Albert Einstein. Namun, validasi ini tidak dilakukan di Bumi melainkan di galaksi yang jauh.

Penelitian ini mendukung pemahaman kita tentang gravitasi saat ini dan memberi lebih banyak bukti keberadaan materi gelap.

Kedua konsep ini hanya diketahui para ilmuwan secara tidak langsung dengan mengamati efek pada benda-benda kosmik.

Sebagai informasi, teori relativitas umum milik Einstein diterbitkan 102 tahun lalu, tepatnya tahun 1916.

Teori ini menjelaskan, gravitasi adalah hasil dari konsep yang dikenal sebagai struktur ruang-waktu.

Sederhananya, teori ini memprediksi seberapa banyak massa suatu objek melalui kurva ruang-waktu.

Sejak pertama kali diterbitkan, sebenarnya teori ini telah diuji beberapa kali dalam tata surya.

Namun, penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim astronom internasional ini adalah tes tepat pertama dari relativitas umum pada skala astronomi yang besar.

Thomas Collett, pemimpin penelitian ini, menggunakan data dari Teleskop Luar Angkasa Hubble milik NASA dan Teleskop Sangat Besar di Observatorium Selatan Eropa di Chile.

Hukum Fisika Bumi sama dengan Galaksi Lain

Hasilnya, tim ini menemukan bahwa gravitasi berperilaku dengan cara yang sama di galaksi yang jauh. Artinya, gravitasi di Bumi sama dengan gravitasi di galaksi-galaksi lain.

Ini membuktikan bahwa teori relativitas umum milik Einstein benar.

Baca juga: NASA Kembali Tangkap Cincin Einstein Langka

"(Tim menguji asumsi bahwa) hukum fisika yang bekerja di Bumi juga sama di tempat lain," ungkap Terry Oswalt, astronom sekaligus ketua prodi ilmu fisika di Embry-Riddle Aeronautical University, Florida dikutip dari Space.com, Kamis (21/06/2018).

"Memverifikasi relativitas umum pada semua skala yang mungkin (terutama skala besar) secara fundamental penting bagi ilmu fisika secara keseluruhan dan bidang kosmologi khususnya," tambah Oswalt yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Materi Gelap dan Energi Gelap

Collet mengatakan, selain memvalidasi teori milik Einstein, temuan ini juga berfungsi sebagai bukti tambahan untuk keberadaan materi gelap dan energi gelap.

Menurut Collet, materi gelap dan energi gelap sering dianggap sebagai hal aneh dalam model standar kosmologi.

Materi gelap hingga kini masih misterius, dipercaya ada tetapi belum ditemukan. Dengan metode gravitaional lensing, astronom mendeteksi cincin materi gelap di kluster galaksi CL0024 17.Wikipedia Materi gelap hingga kini masih misterius, dipercaya ada tetapi belum ditemukan. Dengan metode gravitaional lensing, astronom mendeteksi cincin materi gelap di kluster galaksi CL0024 17.

Untuk diketahui, model standar kosmologi adalah teori yang menggambarkan bagaimana kekuatan dan partikel fundamental di alam semesta bekerja dan berperilaku bersama.

Sayangnya, hingga saat ini pemahaman dan penjelasan tentang kedua hal tersebut masih kurang.

Oswalt bahkan menyebut keduanya sebagai dua misteri terbesar dalam kosmologi saat ini.

"Saya ragu para astronom akan meninggalkan model kosmologi standar dalam waktu dekat," ujar Oswalt.

Menurutnya, astronom tidak akan meninggalkan model ini melainkan membuatnya lebih tepat menjelaskan data yang teramati.

Baca juga: Siapa Sangka, Einstein Ternyata Pernah Lakukan 3 Kekeliruan Fatal

Collet mengatakan, dalam model standar, materi gelap diperlukan untuk menjelaskan seberapa cepat bintang mengorbit di sekitar galaksi dan energi gelap diperlukan untuk menjelaskan mengapa alam semesta berkembang lebih cepat.

Dengan temuan ini, materi gelap dan energi gelap masih sesuai dengan model standar kosmologi.

Meski begitu, Collet menyebut bahwa penelitian ini bukan "bukti nyata" dari keberadaan keduanya. Temuan ini hanya berfungsi sebagai bukti tambahan keberadaan mereka.

Cincin Einstein

Untuk memvalidasi relativitas umum di luar tata surya ini, tim peneliti menggunakan pelensaan gravitasi yang kuat.

Teknik tersebut bekerja dengan cara di mana objek besar - dalam hal ini, galaksi - bertindak seperti lensa besar dengan membengkokkan cahaya sedemikian rupa sehingga citra objek latar belakang, juga galaksi, terdistorsi.

Tim astronom ini menggunakan galaksi ESO 325-G004 karena merupakan salah satu lensa terdekat ke Bumi, hanya berjarak sekitar 500 juta tahun cahaya.

Jika kedua benda tersebut sejajar dengan baik, efek ini menciptakan cincin gambar (cincin Einstein) dari galaksi latar belakang.

"(Jari-jari cincin ini) sebanding dengan defleksi cahaya," kata Collet.

"Jadi, jika Anda mengukur jari-jari cincin tersebut, Anda dapat mengukur kelengkungan (ruang-waktu)," imbuhnya.

Selain mengukur kurva ruang-waktu, para peneliti harus menentukan massa galaksi, karena relativitas umum memprediksi seberapa banyak kelengkungan dibuat oleh massa.

Baca juga: Bukti Ramalan Einstein Seabad Lalu Raih Nobel Fisika 2017

Mereka menghitung massa ini dengan mengukur seberapa cepat perjalanan bintang galaksi.

Selanjutnya, dengan membandingkan massa tersebut dengan kelengkungan ruang-waktunya, tim menemukan apa yang diramalkan relativitas umum untuk galaksi itu.

Dengan keberhasilan ini, tim tersebut berharap bisa mempelajari galaksi dan lensa yang lebih jauh lagi.

Hal ini mereka lakukan untuk kembali memverifikasi bahwa gravitasi bekerja dengan cara yang sama di seluruh kosmos.

"Sangat memuaskan menggunakan teleskop terbaik dunia untuk menantang Einstein, hanya untuk mengetahui seberapa benar dia," kata Bob Nichol, direktur Institute of Cosmology and Gravitation yang juga terlibat dalam penelitian ini.



Sumber SPACE.COM
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kena Cahaya Bulan, Tubuh Tokek Gurun Ini Jadi Hijau Neon

Kena Cahaya Bulan, Tubuh Tokek Gurun Ini Jadi Hijau Neon

Fenomena
CDC: Varian Baru Virus Corona Inggris Mungkin Mendominasi pada Maret

CDC: Varian Baru Virus Corona Inggris Mungkin Mendominasi pada Maret

Oh Begitu
Laut Makin Asam, Gurita Kembangkan Adaptasi Baru untuk Bertahan Hidup

Laut Makin Asam, Gurita Kembangkan Adaptasi Baru untuk Bertahan Hidup

Oh Begitu
9 Syarat Penerima Vaksin dalam Program Vaksinasi Covid-19

9 Syarat Penerima Vaksin dalam Program Vaksinasi Covid-19

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Hoaks BMKG Imbau Warga Tinggalkan Mamuju | Kota yang Hilang karena Erupsi Gunung di Lombok

[POPULER SAINS] Hoaks BMKG Imbau Warga Tinggalkan Mamuju | Kota yang Hilang karena Erupsi Gunung di Lombok

Oh Begitu
BMKG: Banjir Manado Bukan Tsunami, tapi Waspadai Potensi Gelombang Tinggi

BMKG: Banjir Manado Bukan Tsunami, tapi Waspadai Potensi Gelombang Tinggi

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Awal Zaman Kapur Picu Pengasaman Laut

Letusan Gunung Berapi Awal Zaman Kapur Picu Pengasaman Laut

Fenomena
Laut Dalam Pantai Australia Dihuni Spesies Porifera Karnivora Ini

Laut Dalam Pantai Australia Dihuni Spesies Porifera Karnivora Ini

Fenomena
[HOAKS] Gempa Mamuju, BMKG Bantah Intruksikan Warga Tinggalkan Mamuju

[HOAKS] Gempa Mamuju, BMKG Bantah Intruksikan Warga Tinggalkan Mamuju

Fenomena
NASA dan Boeing Uji Roket Superkuat untuk Misi Artemis ke Bulan

NASA dan Boeing Uji Roket Superkuat untuk Misi Artemis ke Bulan

Fenomena
Banjir Kalimantan Selatan, Warga Diimbau Tetap Waspada Hujan 3 Hari ke Depan

Banjir Kalimantan Selatan, Warga Diimbau Tetap Waspada Hujan 3 Hari ke Depan

Fenomena
Banyak Konsumsi Makanan Asin Berbahaya untuk Jantung, Kok Bisa?

Banyak Konsumsi Makanan Asin Berbahaya untuk Jantung, Kok Bisa?

Oh Begitu
Lagi, Gempa Bumi Ke-39 Kali Guncang Majene dan Mamuju

Lagi, Gempa Bumi Ke-39 Kali Guncang Majene dan Mamuju

Oh Begitu
BMKG Ungkap 2 Penyebab Banjir Manado yang Tewaskan 6 Orang

BMKG Ungkap 2 Penyebab Banjir Manado yang Tewaskan 6 Orang

Oh Begitu
BMKG: Banjir Kalimantan Selatan Akibat Cuaca Ekstrem Dipicu Dinamika Atmosfer Labil

BMKG: Banjir Kalimantan Selatan Akibat Cuaca Ekstrem Dipicu Dinamika Atmosfer Labil

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X