Dilema Besar bagi Kongo, 3 Pasien Ebola Kabur dari Karantina

Kompas.com - 25/05/2018, 05:07 WIB
Tim Dokter Lintas Batas mengenakan pakaian pelindung mereka sebelum menangani pasien ebola. Louise Annaud/Doctors Without BordersTim Dokter Lintas Batas mengenakan pakaian pelindung mereka sebelum menangani pasien ebola.

KOMPAS.com – Bila mengikuti pemberitaan mengenai Republik Demokratik Kongo, Anda pasti tahu bahwa negara tersebut kembali dilanda dengan wabah penyakit ebola.

Pemerintah setempat, Badan Kesehatan Dunia (WHO), dan Dokter Lintas Batas tengah berusaha untuk mengontrol wabah ini dengan mengampanyekan vaksinasi dan mencegah penyebaran lebih lanjut.

Namun, tampaknya usaha mereka kini terancam setelah tiga pasien kabur dari karantina.

Baca juga: Perangi Ebola, Kongo Gunakan Vaksin Eksperimental dan Strategi Cincin

Satu di antaranya meninggal di luar karantina, satu berhasil dikembalikan ke rumah sakit dan meninggal di sana, sedangkan satu sisanya telah berhasil masuk di antara masyarakat umum dan diduga masih hidup.

Brienne Prusak, seorang petugas pers untuk Dokter Lintas Batas, mengatakan dalam siaran pers, dalam ketiga kasus, usaha telah dilakukan oleh para staf di rumah sakit untuk meyakinkan pasien dan keluarga agar tidak meninggalkan rumah sakit dan melanjutkan perawatan.

Akan tetapi, dua dari keluarga pasien tetap bersikukuh dan menyelundupkan pasien dari rumah sakit.

Baca juga: Ebola Mewabah Lagi di Kongo, 17 Orang Meninggal

Hal ini, ujar juru bicara WHO di Kongo Eugene Kamambi, bukanlah sesuatu yang tidak terduga. “Sangat wajar bagi seseorang untuk ingin orang tercintanya menghabiskan masa-masa terakhirnya di rumah,” katanya, seperti dikutip dari Washington Post, Kamis (24/5/2018).

Kejadian ini sebetulnya bukan yang pertama bagi Kongo. Ketidakpercayaan pasien kepada dokter di Kongo yang dikombinasikan dengan keterbatasan komunikasi antara pasien dengan keluarga menjadi alasan hal seperti ini terjadi dalam wabah-wabah ebola sebelumnya.

Dokter Lintas Batas sendiri memperingatkan untuk tidak melakukan karantina paksa pada pasien, meskipun mereka juga mengakui bahwa semakin cepat pasien diawat, semakin besar juga kemungkinan mereka untuk selamat dan tidak ikut menyebarkan ebola.

“Kepatuhan pasien adalah yang terpenting,” ujar Prusak.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X