Kompas.com - 18/05/2018, 05:06 WIB
Mangkuk keramik yang ditemukan di kapal karam The Field Museum, Anthropology, Photographer Pacific Sea ResourcesMangkuk keramik yang ditemukan di kapal karam

KOMPAS.com — Ratusan tahun yang lalu, sebuah kapal kayu yang membawa 200 ton besi, 30 ton keramik dari China, gading gajah, resin aromatik, makanan, dan kain menyusuri perairan di antara Jawa dan Sumatra. Namun, kapal tersebut tidak pernah sampai ke tujuannya dan tenggelam ke dasar laut.

Selama berabad-abad lamanya, kapal ini tidur di dasar Laut Jawa hingga para nelayan menemukannya pada 1980-an. Kapal tersebut dijarah hingga akhirnya diselamatkan oleh Pacific Sea Resources pada 1996.

Sisa barang pada kapal tersebut dibagi dua. Setengah diberikan ke Pemerintah Indonesia, sedangkan setengahnya lagi didonasikan ke Field Museum.

Para arkeolog yang sempat mempelajari temuan-temuan tersebut sebelum didonasikan ke Field Museum mengonklusikan bahwa kapal berasal dari pertengahan hingga akhir abad ke-13. Mereka juga menduga bahwa kapal berangkat dari Quanzhou, selatan China, dan menuju Tuban.

Baca juga: Menyingkap Misteri Kapal VOC yang Karam dalam Perjalanan ke Batavia

Namun, arkeolog Field Museum Lisa Niziolek tidak berpikir demikian. Pada 2014, Niziolek yang berkorespondensi dengan para pakar keramik di China dan Jepang menemukan bahwa keramik-keramik dari kapal tersebut lebih mirip dengan keramik-keramik abad ke-11 hingga ke-12.

Niziolek dan koleganya pun mencoba untuk menyelidiki artefak-artefak tersebut lebih lanjut dan menemukan label Jianning Fu pada dua di antaranya.

The Field Museum, cat. no. 344404. Photographer Gedi Jakovickas Label bertuliskan Jianning Fu

Label ini, ujar Niziolek, merujuk pada tempat diproduksinya keramik dan setara dengan label “Made in China” masa kini.

Jianning Fu merupakan sebuah prefektur di provinsi Fujian, China masa lampau. Jianning Fu kemudian berganti nama jadi Jianning Lu ketika Kubilai Khan menjajah China pada 1278.

Artinya, keramik-keramik tersebut tidak mungkin berasal dari abad ke-13 dan berusia 800 tahun.

Baca juga: Cerita Tragis dari Bangkai Kapal Batavia dan Kejamnya Perompak

Pengubahan tahun ini juga lebih masuk akal jika melihat konteks sejarahnya. Menurut Niziolek, sekitar 40 tahun sebelum dugaan waktu termula kapal ini berlayar terjadi perang di China.

“Itu adalah ketika keluarga kerajaan Dinasti Song didesak ke selatan oleh Jurchen yang kemudian menetapkan Dinasti Jin,” ujar Niziolek.

Dia melanjutkan, jalan sutra di daratan mungkin terputus dan Dinasti Song terpaksa harus menggunakan rute maritim. Bukan berarti rute maritim belum ada sebelumnya, tetapi rute ini jadi lebih sering digunakan.

Niziolek dan para peneliti pun setuju dengan dugaan sebelumnya bahwa kapal bertujuan ke sebuah pelabuhan di Jawa, walaupun belum tentu Banten, untuk menukarkan barang-barang tersebut dengan komoditas yang berharga, seperti rempah-rempah.

Ke depannya, tim peneliti akan meneruskan penyelidikan mereka terhadap barang-barang yang dibawa oleh kapal ini, termasuk menggunakan analisis DNA untuk mengetahui asal-usul gading.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tanda dan Gejala Kanker Ovarium yang Harus Dicurigai

Tanda dan Gejala Kanker Ovarium yang Harus Dicurigai

Oh Begitu
Karakteristik Hutan Mangrove yang Harus Kamu Ketahui

Karakteristik Hutan Mangrove yang Harus Kamu Ketahui

Oh Begitu
Tren Peningkatan Kasus Covid-19 di Indonesia, Apakah Akibat Omicron? Ini Kata Kemenkes

Tren Peningkatan Kasus Covid-19 di Indonesia, Apakah Akibat Omicron? Ini Kata Kemenkes

Oh Begitu
Studi Ungkap Polusi Nanoplastik Pertama Kali Terdeteksi di Kutub Bumi

Studi Ungkap Polusi Nanoplastik Pertama Kali Terdeteksi di Kutub Bumi

Fenomena
3 Tahapan Metamorfosis Tidak Sempurna

3 Tahapan Metamorfosis Tidak Sempurna

Oh Begitu
Pengertian Sabana serta Contoh Flora dan Faunanya

Pengertian Sabana serta Contoh Flora dan Faunanya

Oh Begitu
Gempa Talaud Hari Ini Sudah 9 Kali Susulan, BMKG Tegaskan Bukan Gempa Megathrust

Gempa Talaud Hari Ini Sudah 9 Kali Susulan, BMKG Tegaskan Bukan Gempa Megathrust

Fenomena
Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Fenomena
Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Oh Begitu
Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Oh Begitu
Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Oh Begitu
Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Kita
Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

Oh Begitu
Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.