Dahsyatnya Uji Coba Nuklir Korut, Sampai Bisa Memindahkan Gunung

Kompas.com - 11/05/2018, 19:05 WIB
Situs uji coba Korut diduga runtuh. APSitus uji coba Korut diduga runtuh.

KOMPAS.com – Masih ingatkah Anda dengan uji coba nuklir Korea Utara pada September 2017? Uji coba kali tersebut memunculkan banyak studi karena kedahsyatannya.

Menurut studi sebelumnya, uji coba tersebut menyebabkan empat gempa bumi, termasuk yang 6,3 magnitudo, dan situs uji coba Korea Utara di gunung Mantap runtuh.

Studi terbaru dalam jurnal Science mengungkapkan efek yang lebih mengerikan. Rupanya, bom tersebut mampu memindahkan gunung Mantap.

Tim peneliti internasional gabungan dari Nanyang Technological University, The University of California-Berkeley, dan berbagai institusi lainnya menggunakan instrumen Synthetic Aperture Radar (SAR) pada satelit Jerman TerraSAR-X untuk mengukur perpindahan horizontal dan vertikal dari gunung Mantap.

Baca juga : Pakar Geologi Ungkap Alasan Sebenarnya Korut Berhenti Uji Coba Nuklir

Mereka menemukan bahwa bom diledakkan pada kedalaman 450 meter dari puncak gunung. Dengan tinggi gunung yang hanya 2.205 meter, ruang uji coba tergolong dangkal.

Selain itu, para peneliti juga mendeteksi adanya gempa susulan yang berjarak 700 meter dari gempa utama akibat ledakan. Temuan ini turut mengonfirmasi studi-studi sebelumnya bahwa situs uji coba di gunung Mantap telah runtuh.

Akan tetapi, temuan yang paling mengerikan adalah pergeseran gunung Mantap ke arah barat-barat daya sejauh 3,5 meter seusai ledakan.

Douglas Dreger, seorang peneliti dari Departemen Bumi dan Ilmu Planet di University of California-Berkeley yang terlibat dalam studi, berkata bahwa dia tidak pernah melihat pergeseran sebesar itu yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

“Tetapi, pergeseran vertikalnya jauh lebih kecil dari pergeseran horizontalnya. Kami kemudian menyadari bahwa ini terjadi karena pemadatan yang didorong oleh gravitasi setelah ledakan,” imbuhnya.

Baca juga : BMKG Catat Gempa 5,3 Magnitudo akibat Ledakan Nuklir di Korea Utara

Berdasarkan data-data tersebut, para peneliti juga memperkirakan bahwa bom yang digunakan Korea Utara berkekuatan sekitar 209 kiloton, dengan margin kesalahan dari 120 hingga 304 kiloton.

Ini berarti hasil perkiraan terbaru dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya yang menyatakan bahwa bom yang digunakan Korea Utara berkekuatan 100 kiloton. Dengan kekuatan tersebut, bom ini juga 14 kali lipat dari bom yang dijatuhkan di Hiroshima pada 1945.

Ke depannya, para peneliti ingin meningkatkan teknik mereka untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi, misalnya dengan mempertimbangkan struktur eslastisitas gunung yang tidak merata dan kompleks.

Para peneliti juga berencana untuk menggabungkan data mereka dengan hasil pencitraan satelit seusai ledakan untuk mengetahui ada tidaknya periode kerusakan yang lambat.



Sumber Gizmodo
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X