Kompas.com - 02/05/2018, 17:00 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi


KOMPAS.com - Karbon dioksida (CO2) adalah senyawa yang erat hubungannya dengan era industri.

Sejak dunia industri mulai tumbuh 150 tahun terakhir, emisi CO2 meningkat pesat. Faktor utamanya adalah pembakaran fosil untuk batu bara, gas alam, dan minyak bumi.

Dilaporkan Newsweek Senin (1/5/2018), hal ini berdampak pada meningkatnya permukaan laut, tanaman tidak tumbuh subur, dan nyamuk pembawa penyakit malaria berkembang biak.

Menurut data yang dikeluarkan Pusat Analisis Informasi Karbon Dioksida Departemen Energi AS (CDIAC), manusia telah meningkatkan lebih dari 400 miliar ton CO2 ke atmosfer sejak 1751.

Baca juga : Angka Karbon Dioksida Tunjukkan Nasib Bumi yang Makin Mengkhawatirkan

Sekitar setengah dari jumlah tersebut diproduksi pada akhir 1980-an hingga sekarang.

Selain itu, penggunaan bahan bakar fosil padat dan cair yang digunakan sebagai sumber batu bara dan minyak menyumbang sekitar tiga perempat dari total tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Misalnya saja pada 2014 penggunaan bahan bakar fosil dan pembuat semen dapat melepaskan sekitar 9,9 miliar ton CO2. Ini adalah level tertinggi sepanjang sejarah.

Setelah lebih dari 30 tahun beroperasi, CDIAC memutuskan tutup September lalu. Data yang mereka miliki dikirim ke sejumlah tempat seperti Ocean Carbon Data System milik NOAA dan California Institute of Technology.

Di tahun ini, para Ilmuwan kembali memperingatkan kita dengan sejumlah fakta seperti pencairan es Arktik, cuaca ekstrem yang dihadapi AS, juga runtuhnya kehidupan laut.

Baca juga : Polusi Turun Drastis dalam 4 Tahun, Bagaimana China Melakukannya?

Presiden Perancis Emmanuel Macron pun angkat bicara terkait kasus ini dengan beralih ke ekonomi global rendah karbon.

"Membangun masa depan yang lebih baik adalah untuk generasi penerus agar bisa hidup layak di bumi. Beberapa orang berpikir mengolah industri saat ini jauh lebih penting dibanding mengubah perekonomian. Saya sudah mendengar fakta ini, dan kita harus segera beralih ke ekonomi rendah karbon," kata Macron dalam pertemuan dengan anggota Dewan dan Senat AS.

PBB akan segera bertemu di Katowice, Polandia dalam acara Konferensi Perubahan Iklim (COP 24) pada Desember untuk membahas masalah perubahan iklim. Sebelum pertemuan berlangsung, para ahli saat ini sedang mendiskusikan inovasi teknologi dan jalan keluar di Bonn, Jerman.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber Newsweek
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.