Para Ahli Kembangkan Perawatan Radioterapi Baru untuk Kanker Prostat

Kompas.com - 25/04/2018, 12:30 WIB
Ilustrasi kanker prostat shutterstockIlustrasi kanker prostat

Ilustrasi kanker prostat.Thinkstock Ilustrasi kanker prostat.

KOMPAS.com - Radioterapi adalah salah satu bentuk perawatan yang sering diberikan pada pasien kanker. Hanya saja, perawatan ini punya efek samping kurang menyenangkan, yaitu mulai dari masalah kulit kering, gatal, mengelupas, atau pasien mengalami kelelahan yang cukup hebat.

Namun, kini para ilmuwan menemukan cara penggunaan radioterapi yang relatif lebih aman dan efektif bagi para penderita kanker prostat.

Radioterapi ultrahypofractionated pada penderita kanker prostat dianggap lebih efekif, murah dan efisien dibandingkan dengan radioterapi pada umumnya. Temuan tersebut dipresentasikan dalam konferensi ilmiah ESTRO 37 pada hari Senin (23/4/2018).

Anders Widmark, konsultan senior di Fakultas Ilmu Radiasi dan Pusat Kanker di Universitas Umeå, Swedia, menjelaskan, radioterapi ultrahypofractionated adalah perawatan pasien kanker prostat dengan menggunakan radioterapi dosis tinggi dalam waktu singkat.

Baca juga: Untuk Pria, Waspadai 5 Gejala Kanker Prostat yang Sulit Terdeteksi

Metode ini hanya butuh waktu perawatan setiap dua hari selama dua setengah minggu di rumah sakit. Ini berbeda dengan perawatan radioterapi pada umumnya, yang harus dilakukan setiap minggu selama delapan minggu.

Perawatan ini juga tidak menggunakan seluruh peralatan radioterapi pada umumnya. Sehingga, pasien bisa menghemat biaya dan tidak terlalu lama dalam daftar tunggu untuk perawatan.

"Kita sudah mengetahui bahwa radioterapi dapat menghancurkan sel-sel kanker di prostat dan memiliki keunggulan dibandingkan dengan operasi atau terapi hormon, karena sedikit kemungkinannya menyebabkan impotensi atau inkontinensia. Akan tetapi, radioterapi memerlukan peralatan khusus yang mahal dan pasien harus mengantri lama," jelas Widmark dikutip dari Eurekalert, Senin (23/04/2018).

"(Sedangkan) radioterapi ultrahypofractionated dengan menawarkan sejumlah manfaat praktis untuk pasien serta penghematan waktu dan biaya untuk rumah sakit. Jadi, kami ingin menguji apakah perawatan ini dapat menjadi radioterapi yang standar," tambahnya. 

Untuk mendapat temuan ini, Widmark mengamati 1.200 pasien yang dirawat di sepuluh rumah sakit di Swedia dan dua di Denmark selama bulan Juli 2005 hingga November 2015.

Semua pasien telah didiagnosis mengidap kanker stadium sedang atau berisiko tinggi. Itu artinya, kanker pada pasien bisa menyebar apabila tidak segera mendapat perawatan.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
Studi: Virus Mencuri Kode Genetis Manusia, Ciptakan Gen Campuran Baru

Studi: Virus Mencuri Kode Genetis Manusia, Ciptakan Gen Campuran Baru

Oh Begitu
Es Berwarna Pink Muncul di Pegunungan Alpen, Fenomena Apa Itu?

Es Berwarna Pink Muncul di Pegunungan Alpen, Fenomena Apa Itu?

Oh Begitu
Sebagian Indonesia Lebih Dingin Bukan karena Aphelion, tapi Pola Angin

Sebagian Indonesia Lebih Dingin Bukan karena Aphelion, tapi Pola Angin

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X