Kompas.com - 03/04/2018, 07:04 WIB

KOMPAS.com — Penggunaan antibiotik yang berlebihan membuat seorang pria di Inggris divonis memiliki penyakit kelamin kencing nanah yang mungkin tidak bisa disembuhkan.

Dilansir dari Sciencealert, Kamis (29/3/2018), seorang pria Inggris yang tidak disebutkan identitasnya datang ke klinik karena gonore pada awal tahun ini. Pria yang sudah memiliki pasangan tersebut diduga terinfeksi gonore ketika berkunjung ke Asia Tenggara.

Dia pun diberikan kombinasi dua jenis antibiotik, yaitu azithromycin dan ceftriaxone.

Dua jenis obat tersebut sebetulnya sering dipakai untuk mengobati gonore. Namun, keduanya tidak manjur pada pria tersebut.

Baca Juga: WHO: "Penyakit X" Bisa Sebabkan Epidemi Global

Akhirnya, tim ahli dari Public Health England (PHE) pun menyuntikkan obat ertapenem yang memiliki dosis yang lebih kuat. Hasilnya baru dapat diketahui satu bulan mendatang.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan, kasus infeksi gonore yang mengalami kekebalan terhadap antibiotik mencapai 30 persen.

Fakta ini sejalan dengan peringatan dari WHO pada tahun 2017 mengenai adanya peningkatan jumlah kasus resistensi antibiotik, khususnya untuk jenis antibiotik lama yang harganya murah.

Review on Antimicrobial Resistance yang dirilis oleh Pemerintah Inggris juga menyebutkan bahwa bakteri super yang kebal terhadap antibiotik telah merenggut 50.000 nyawa setiap tahunnya di wilayah Eropa dan Amerika. Lalu secara global, angka kematian karena infeksi yang resisten antibiotik bisa mencapai 700.000 setiap tahunnya.

Baca Juga: Penggunaan Antibiotik Sedunia Meroket, Ini Sebabnya

Di sejumlah negara yang memiliki sistem pengawasan peredaran obat yang baik, kasus resistensi ditemukan terjadi pada semua jenis antibiotik yang beredar di masyarakat saat ini.

"Kasus-kasus ini mungkin hanya puncak gunung es karena negara miskin yang mungkin memiliki banyak kasus gonore tidak memiliki sistem pantauan dan diagnosis memadai untuk memantau penyakit tersebut," kata Teodora Wi, ahli kesehatan reproduksi manusia, bersama WHO dalam sebuah keterangan pers tahun 2017 lalu.

Sementara itu, munculnya antibiotik yang baru jangan diharapkan dapat cepat terwujud. Selain mahal, resistensi antibiotik yang baru ternyata lebih cepat terjadi karena antibiotik mulai digunakan di bidang pertanian.

Satu hal yang bisa dipelajari dari kasus ini adalah mewaspadai penggunaan antibiotik saat Anda berobat ke dokter dan melakukan kegiatan seksual dengan aman.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.