Kompas.com - 24/03/2018, 21:05 WIB

KOMPAS.com – China terus berambisi besar di bidang sains. Selain ingin menjadi yang pertama mendarat di sisi jauh bulan dan membangun stasiun luar angkasa sendiri, kini China ingin membangun terowongan angin hipersonik terkuat dalam sejarah pada 2020.

Terowongan yang panjangnya 265 meter ini akan bisa memproduksi kecepatan hipersonik dengan meledakkan campuran oksigen, hidrogen, dan nitrogen.

Rencananya, terowongan akan digunakan untuk menguji pesawat pada kecepatan angin yang 10 kali lipat dari terowongan angin biasa atau kecepatan terbang hingga Mach 25 (25 kali kecepatan suara atau 30.625 kilometer per jam).

Perlu Anda ketahui, pesawat tercepat yang ada sekarang hanya mampu mencapai Mach 3 atau 14 jam untuk jarak tempuh New York ke Beijing. Namun, dengan kecepatan Mach 25, jarak yang sama akan bisa diselesaikan dalam waktu 20 menit.

Baca juga : Sisi Jauh Bulan dalam Mimpi Besar China Ungguli AS dan Rusia

Kalaupun pesawat yang ingin diuji China bisa mencapai kecepatan Mach25, pertanyaannya adalah mampukah tubuh pesawat bertahan untuk tidak terbakar pada kecepatan tersebut? Inilah yang ingin dijawab negara tersebut melalui terowongan angin hipersonik.

Han Guilai, seorang peneliti di Chinese Academy of Sciences, mengatakan kepada media pemerintah China Xinhua, terowongan baru ini akan membantu aplikasi teknik dari teknologi hipersonik dengan menduplikasik lingkungan penerbangan hipersonik yang ekstrem.

“Begitu masalahnya diketahui dalam uji coba ini, mereka akan dibetulkan sebelum uji terbang yang sebenarnya dilaksanakan,” katanya.

Misil hipersonik

Selain untuk menguji pesawat, terowongan angin hipersonik juga akan membantu merealisasikan misil super cepat.

Baca juga : Di Balik Tiangong-1, Ada Ambisi China Membangun Istana Antariksa

Lima kali lipat lebih cepat dari suara, senjata hipersonik bisa menghindari pertahanan anti-misil yang ada karena perubahan arah yang tidak bisa diprediksi dan ketinggian yang luar biasa.

Sejauh ini, beberapa negara telah dilaporkan sedang mengembangkan senjata hipersonik.

Amerika Serikat dan Australia, misalnya, dilaporkan oleh The Drive, 13 Juli 2017, sedang menguji coba roket prototipe yang bsia mencapai Mach 7,5.

Sementara itu, China sendiri dilaporkan oleh Popular Mechanics, 29 Desember 2017, sudah selesai menguji misil DF-17 yang bisa mencapai kecepatan hipersonik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.