Musim Kemarau 2018 Tidak Datang Serempak, NTT Paling Awal

Kompas.com - 15/03/2018, 16:14 WIB
Petani memperlihatkan sawah mengering akibat kemarau di Desa Matang Keh, Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (16/2/2018). Kompas.com/MasriadiPetani memperlihatkan sawah mengering akibat kemarau di Desa Matang Keh, Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (16/2/2018).
JAKARTA, KOMPAS.com - Bulan April, beberapa wilayah di Indonesia diperkirakan sudah memasuki musim kemarau.
 
Wilayah yang pertama kali mengalami kemarau adalah Nusa Tenggara Timur. Curah hujan di sana saat ini hanya 55 milimeter per bulan dan akan terus menurun. 
 
Demikian disampaikan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam acara konferensi pers di Kantor BMKG Pusat, Jakarta, Kamis (15/3/2018).

"Pada April, curah hujan semakin rendah. Dalam satu bulan bisa mencapai 55 milimeter, terlihat mulai di daerah Nusa Tenggara Timur," ujarnya.

Selain Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Bali juga akan memasuki musim kemarau pada April.
 
Sementara itu, wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi masih akan masuk musim kemarau belakangan.
 
Bulan April, pulau-pulau besar itu masih akan diguyur hujan dengan intensitas 200-300 milimeter per bulan.
 
Beberapa wilayah di Papua bahkan masih turun hujan dengan skala 300-400 milimeter per bulan.
 
 
Jawa, kalimantan, Sulawesi, dan Papua diperkirakan baru memasuki kemarai pada Mei. Curah hujan saat itu diperkirakan hanya 50-100 milimeter.

"Dari Juni hingga Juli, kemarau meluas. Curah hujan sangat rendah bahkan hanya 20 mm per bulan. Semakin kering," katanya.

Kendati pada bulan Juni zona daerah yang terkena musim kemarau meningkat, Papua Barat bagian utara masih memiliki curah hujan tinggi.

 
Dwikorita menjelaskan, musim kemarau tidak berlangsung serempak karena Indonesia punya tiga pola hujan.
 
Ketiga pola itu adalah monsunal, lokal, dan ekuatorial. Pola ini dikaji para ahli berdasar data historis curah hujan selama 30 tahun.

Wilayah dengan tipe hujan monsunal mempunya satu puncak hujan dalam satu satu tahun. Puncak hujan daerah ini biasanya berlangsung pada bulan Desember-Januari.

Daerah dengan tipe hujan ekuatorial memiliki dua puncak musim hujan dalam satu tahun, puncak musim hujan pertama pada bulan Maret dan puncak musim kedua November.

Sedangkan tipe lokal mempunyai satu puncak musim hujan yang periodenya berkebalikan dari pola monsunal, yaitu pada bulan Agustus.

Baca juga : Menurut Hasil Studi, Jakarta Bakal Terancam Banjir Besar pada 2060

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X