Lulusan Negeri Kurang Kompeten, Indonesia Kekurangan Insinyur - Kompas.com

Lulusan Negeri Kurang Kompeten, Indonesia Kekurangan Insinyur

Kompas.com - 12/03/2018, 17:33 WIB
Ilustrasi insinyurThinkstock Ilustrasi insinyur

KOMPAS.com -  Data yang dikeluarkan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti) menyebutkan bahwa Indonesia kekurangan 190.997 lulusan sarjana teknik hingga 190.997.

Kekurangan insinyur beserta pekerja trampil level menengah ke atas lainnya membuat pemerintah RI mempermudah izin tenaga kerja asing di Indonesia, termasuk dengan mencabut Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 Tahun 2013 Tentang Kententuan Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) Indonesia Pada Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi.

Baca juga : Indonesia Darurat Insinyur Milenial!

Menurut Dr Marshall Schott, PhD selaku President of Sampoerna Schools System, kekurangan insinyur di Indonesia bukan karena kurangnya minat untuk menempuh jalur pendidikan teknik. Faktanya, jurusan teknik masih termasuk dalam 10 besar jurusan yang paling diminati di Indonesia.

Namun, sayangnya lulusan teknik Indonesia masih kurang kompeten bila dibandingkan lulusan luar negeri sehingga mereka tidak bisa langsung terjun ke bidang teknik.

Dr Ammar Aamer, Dekan Fakultas Teknik dan Teknologi di Sampoerna University, juga sependapat.

“Ada ketidakcocokan antara universitas dengan apa yang diminta oleh industri, baik secara keterampilan untuk langsung bekerja maupun keterampilan-keterampilan lainnya. Dikarenakan oleh ketidakcocokan ini, ada lulusan yang tidak bisa mendapat kerja, meskipun pekerjaan itu sebenarnya ada,” ujarnya.

Baca juga : Mengapa Banyak Ilmuwan Indonesia yang Hengkang ke Luar Negeri?

Dalam diskusi yang dihadiri Kompas.com di Sampoerna University, Jumat (9/3/2018) tersebut, Marshall, Ammar, dan Head of Industrial Engineering Department – University of Arizona Dr Young-Jon Son mengidentifikasikan beberapa keterampilan yang dibutuhkan oleh seorang insinyur.

Mereka berkata bahwa seorang insinyur tidak bisa sekadar terlatih dalam keterampilan keras saja; tetapi juga keterampilan lunak, seperti berkomunikasi, terutama dalam bahasa Inggris, menganalisis, mengungkapkan pendapat, menyelesaikan masalah, dan bekerja sama.

Selain itu, insinyur dituntut untuk inovatif. “Profesi insinyur adalah kunci perkembangan dan inovasi,” kata Son.

Dia pun memberi contoh bagaimana University of Arizona berusaha menempa pola pikir inovatif ke dalam mahasiswanya. “Kita punya yang namanya Senior Design Project, ini wajib dilakukan selama dua semester. Proyek ini disponsori oleh industri,” katanya.

Baca juga : Ilmuwan Indonesia, Akankah Selamanya Menjadi Ali?

Dalam proyek tersebut atau selama libur musim panas, para mahasiswa di University of Arizona dihimbau untuk magang dan melihat langsung masalah-masalah yang ada di industri tujuan mereka dan keterampilan yang dibutuhkan ketika lulus. Dengan demikian, mereka bisa berpikir untuk memecahkan masalah yang mereka lihat di luar ketika kembali ke universitas.


“Itulah yang kita coba lakukan di sini (Sampoerna University),” kata Marshall. Sejak tahun pertama kuliah, mahasiswa di Sampoerna University telah diminta untuk mengunjungi dan magang di bidang-bidang yang menjadi minat mereka.

Sampoerna University juga bekerja sama dengan University of Arizona untuk menghadirkan kurikulum jurusan teknik yang digunakan University of Arizona di Indonesia mulai semester depan, melakukan riset bersama, dan mengadakan pertukaran ilmu antara anggota fakultas teknik.

Komentar
Close Ads X