Kompas.com - 09/03/2018, 18:09 WIB

Saat ini sel punca yang diambil berasal dari embrio manusia yang berusia tujuh hari setelah pembuahan. Sel punca pada usia tersebut menjadi yang paling diincar para ilmuwan karena sifatnya yang mudah diolah dan fleksibel.

Sayangnya, penelitian sel punca embrio ini banyak dilarang di negara barat. Itu karena pengambilan sel punca embrio bisa mengakibatkan kematian embrio itu sendiri.

Dengan kata lain, pengambilan sel punca bayi yang masih dalam kandungan bisa membunuh kehidupan.

Ini pula yang menyebabkan ilmuwan banyak bergantung pada sel punca manusia dewasa yang rapuh dan sulit diolah dengan teknologi yang ada sekarang. Apalagi, sel punca manusia dewasa harus digunakan pada pemberi donor sel sendiri untuk menghindari komplikasi.

Baca juga: Pada Sel Punca Otak, Ilmuwan Temukan Kunci Umur Panjang

Dari hal inilah, Dr. Robert Hariri, pendiri Celularity, melirik plasenta sebagai sumber sel punca. Menurutnya, penelitian sel punca plasenta bisa membuat ongkos terapi menjadi lebih murah.

Sebagai perbandingan, saat ini terapi sel punca untuk penyakit kanker dibanderol antara 4,1 hingga 6,8 miliar rupiah. Ongkos pengobatan tersebut menjadi mahal karena dokter harus menggunakan sel punca yang khusus dikembangkan untuk masing-masing pasien.

"Tidak terelakkan bahwa (pengobatan) kanker membutuhkan sel kekebalan tubuh buatan. Rencana kami adalah dengan membuat plasenta sebagai sumber sel kekebalan tubuh, kami bisa mendemokratisasi teknologi ini dengan cara yang sebelumnya mustahil dilakukan," kata Hariri seperti dilansir CNBC.

Manusia Abadi

Pada akhir Februari silam Diamandis menulis di sebuah buletin email, "saya bertanya ke manusia-manusia paling cerdas yang saya kenal tentang prediksi mereka soal teknologi untuk 20 tahun ke depan,".

Salah satu prediksi yang dia tulis adalah bahwa manusia "akan mampu mencapai kelangsungan hidup melebihi kecepatan usia untuk kaum terkaya di dunia."

Kelangsungan hidup yang dimaksud adalah tingkat harapan hidup manusia akan meningkat sebanyak satu tahun setiap kali usia bertambah.

"Potensi bisnis penambah angka harapan hidup sekitar 20 hingga 30 tahun, akan sangat besar. Karena pada akhirnya orang akan menggunakan uang hasil jerih payah mereka tidak cuma untuk hidup lebih lama, tetapi juga hidup lebih sehat," kata Diamandis kepada CNBC.

Baca juga: Terapi Sel Punca Menjanjikan Atasi Disfungsi Ereksi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.