Mitos atau Fakta: Déjà Vu adalah Pengalaman yang Terjadi di Masa Lalu - Kompas.com

Mitos atau Fakta: Déjà Vu adalah Pengalaman yang Terjadi di Masa Lalu

Kompas.com - 06/03/2018, 21:04 WIB
ilustrasi deja vu(R-O-M-A/Shutterstock) ilustrasi deja vu


KOMPAS.com — Sebagian besar kita pernah mengalami yang namanya déjà vu. Perasaan aneh yang tiba-tiba dialami dan merasa ini bukan kejadian pertama kali.

Déjà Vu yang dalam bahasa Perancis artinya sudah terlihat merupakan perasaan luar biasa dan aneh.

Tak jarang, kita berandai-andai dan berpikir keras untuk dapat menjawab kapan kejadian tersebut sebenarnya pernah kita alami.

Terkait déjà vu, penelitian baru yang dilakukan oleh psikolog asal Colorado, Amerika Serikat, bernama Anne Cleary menyebut bahwa ini hanya perasaan saja. Tidak kurang tidak lebih, hanya perasaan.

Baca juga: Kenapa Kita Mengalami Deja Vu? Sains Menjelaskan

Kini, mari kita tak usah lagi berpikir bahwa déjà vu adalah sesuatu yang berkaitan dengan kejadian supranatural dari masa lalu atau berandai-andai kejadian yang sama pernah dialami dalam mimpi.

Tak usah juga berpikir bahwa déjà vu memiliki hubungan dengan ingatan yang sama seperti kata yang gagal diucapkan, padahal sudah sampai di ujung lidah.

Dalam laporan yang diterbitkan di Psychological Science, Kamis (1/3/2018), Cleary mengatakan, orang yang mengalami déjà vu tidak mungkin bisa menggambarkan sesuatu secara akurat dan rinci apa yang akan terjadi setelah pengalaman déjà vu terjadi.

Cleary pun membantah penelitian sebelumnya yang mengatakan déjà vu berhubungan dengan kenangan. Ia justru mengatakan bahwa keakraban terhadap sesuatu merupakan pemicu utama terjadinya déjà vu.

Sebut saja seperti tata letak jalan, tata ruang, atau wajah sangat mungkin terlihat mirip dengan tata letak jalan, tata ruang, atau wajah yang berbeda. Hal ini bisa muncul tanpa ingatan khusus yang segera muncul dalam pikiran kita.

"Kita tidak dapat mengingat kejadian sebelumnya secara sadar, tapi otak kita mengenali adanya kesamaan atau kemiripan. Hal ini adalah sesuatu yang meresahkan tapi, kita juga tidak bisa mengetahui kapan atau mengapa itu terjadi," ujar Cleary dilansir Science Alert, Selasa (6/3/2018).

"Hipotesis saya, déjà vu adalah manifestasi keakraban tertentu. Anda memiliki keakraban dalam sebuah situasi di mana Anda tidak merasa pernah mengalaminya," sambungnya.

Baca juga: Tak Hanya Pola Hidup yang Buat Beberapa Lansia Punya Ingatan Tajam

Menurut Cleary dalam catatan anekdot atau anecdotal record, déjà vu sering disertai dengan perasaan kuat untuk bisa memprediksi masa depan.

Akhirnya ia melakukan penelitian pada 298 responden. Ia dan timnya membangun sebuah lingkungan yang tata spasialnya sama, tetapi barangnya berbeda dalam permainan The Sims.

Lewat tes sederhana ini, Cleary dan timnya menemukan bahwa duplikasi ini telah mendorong perasaan déjà vu pada tiap peserta.

Selain itu, peserta juga diberi tugas untuk menonton video yang menunjukkan serangkaian adegan seorang perempuan mengucapkan sesuatu seperti tempat barang rongsokan atau akuarium.

Mereka kemudian diminta melakukan serangkaian tes video yang agak berbeda, tapi setengahnya ditata persis sama seperti video penelitian.

Saat mereka bingung, peserta mulai ditanya apa mengalami déjà vu dan apa bisa memprediksi kejadian berikutnya.


Sekitar separuh dari peserta mengatakan mereka mengalami déjà vu.

Dari sini Clearly dan timnya mengatakan bahwa déjà vu pada dasarnya hanya perasaan.

Komentar
Close Ads X