Harimau Sumatera, Predator Buas yang Bantu Hutan Tetap Lestari - Kompas.com

Harimau Sumatera, Predator Buas yang Bantu Hutan Tetap Lestari

Kompas.com - 05/03/2018, 19:02 WIB
Mekar, seekor harimau sumatra yang dilepasliarkan di Pusat Rehabilitasi Harimau Tambling Wildlife Nature Conservation.Dwi Oblo/National Geographic Indonesia Mekar, seekor harimau sumatra yang dilepasliarkan di Pusat Rehabilitasi Harimau Tambling Wildlife Nature Conservation.

KOMPAS.com - Harimau sumatera (Panthera tigris sondaica) adalah subspesies terakhir yang tersisa di Indonesia.

Ratusan tahun lalu memang ada harimau bali (Panthera tigris balica) dan harimau jawa (Panther tigris sondaica), namun keduanya sudah dinyatakan punah.

Harimau bali dinyatakan punah pada 27 September 1937 dan harimau jawa sudah punah sejak 1980-an. Tak ada yang tersisa dari keduanya akibat perburuan dan hilangnya habitat.

Hal yang sama kini mengincar harimau sumatera. Sejak 2008 spesies ini sudah dimasukkan dalam kelompok terancam punah oleh The International Union for Comnservation of Nature (IUCN), statusnya kritis.

Baca juga : Meresahkan Warga, Seekor Harimau Dibunuh dan Jadi Tontonan

Sebuah studi yang diterbitkan jurnal Nature Communications, Selasa (5/12/2017), menyatakan bahwa populasi harimau sumatera telah mengalami penurunan drastis.

Pada tahun 2000 jumlah populasi harimau sumatera di alam liar sebanyak 742 ekor. Angka ini turun menjadi 618 pada 2012.

"Kalau menurut pantauan hasil analisis 2015, (populasinya) sekarang ada 600-an ekor," kata Munawar Kholis, Ketua Forum HarimauKita (FHK), saat dihubungi Kompas.com, Senin (5/3/2018).

Ia menjelaskan 600-an ekor harimau sumatera tadi tersebar di seluruh hutan di kawasan Sumatera.

Mari kita bagi hutan di Indonesia menjadi dua kelompok, yakni hutan yang cakupannya luas dan hutan yang cakupannya kecil atau sempit. Hutan yang disebut sempit adalah yang luasnya kurang dari 1.000 kilometer persegi atau 100.000 hektar.

"Harimau dewasa (jantan) bisa menjelajah 25.000 hektar (250 kilometer persegi) hutan untuk berburu, sedangkan harimau betina sepertiganya. Saat harimau berada di hutan yang kecil, ia bisa ke luar dari hutan dan masuk pemukiman warga," ujar Munawar.

Selain itu, munculnya perkebunan juga mengubah kehidupan harimau. Munawar mengatakan sebenarnya tidak masalah harimau hidup di perkebunan, hewan lain seperti babi hutan juga bisa hidup di perkebunan.

Namun, makin banyaknya perkebunan ini yang membuat interaksi antara harimau dan manusia meningkat. Saat interaksi meningkat, kemungkinan untuk hewan langka ini diburu dan munculnya konflik antara harimau dan manusia semakin besar.

Inilah yang membuat status harimau berada di titik kritis. Perburuan dan perdagangan masih merajalela, ditambah tidak munculnya efek jera.

Baca juga : Teka-teki Punahnya Harimau Tasmania Terpecahkan, Ini Penjelasannya

Kehidupan harimau sumatera

Munawar berkata harimau sumatera betina akan melahirkan tiga sampai lima anak dalam tiga tahun sekali.

Sayangnya dari tiga sampai lima bayi harimau, yang bisa bertahan hidup hingga dewasa rata-rata hanya satu harimau saja.

Di saat hamil, induk harimau akan mengasingkan diri dari kelompoknya. "Harimau (sumatera) betina kalau sedang hamil ia akan pergi ke hutan lain supaya (anak-anaknya setelah lahir) aman dari (harimau) pejantan lain. Ia akan menjaga anak-anaknya sampai dirasa cukup mandiri," katanya.

"Ini perilaku yang dilakukan harimau betina. Saat harimau betina melahirkan, biasanya harimau jantan akan membunuh bayi harimau yang baru lahir. Mungkin hal ini dilakukan agar harimau betina birahi dan mau kawin lagi. Sebab itu (untuk menjaga anak-anaknya), harimau betina memilih pergi ke hutan lain," sambungnya.

Sebelum harimau betina hamil, harimau jantan harus melakukan pendekatan dengan harimau betina selama tiga sampai sembilan minggu. Dalam jangka waktu ini, harimau jantan dan pasangannya akan terus bersama sampai harimau betina hamil.

Masa hamil harimau sekitar 95 sampai 110 hari. Nah, saat bayi harimau lahir mata mereka tertutup dan baru membuka pada usia kurang lebih dua minggu.

Dalam masa pengasingannya, induk harimau baru akan mengajari anak-anaknya berburu di alam bebas ketika berusia lima sampai enam bulan. Sang induk benar-benar akan melepaskan anaknya saat mereka dirasa sudah mampu berburu sendiri, kira-kira sampai berumur 1,5 sampai 2 tahun.

Salah satu yang menarik dari hewan ini menurut Munawar adalah mereka memiliki alat komunikasi yang unik. Tak hanya lewat suara yang mengaum dan ekor yang dapat menyampaikan berbagai macam emosi, harimau juga berkomunikasi lewat aromanya.

Ya, harimau mampu mencium aroma kawanannya. Menurut Munawar hal ini dihasilkan dari kelenjar yang ke luar bersamaan dengan air kencingnya.

"Ini juga dapat digunakan untuk melacak harimau ada di mana, aromanya tercium," katanya.

Baca juga : Harimau Sumatera di Ujung Kepunahan, Siapa Pelakunya?

Harimau penjaga ekosistem hutan

Dengan menyelamatkan harimau, sebenarnya kita ikut membantu menyelamatkan ekosistem dan habitat hutan yang besar.

Sebagai predator puncak dalam rantai makanan di habitatnya, bila populasi harimau terus merosot maka kestabilan rantai makanan akan terganggu dan menyebabkan berbagai perubahan ekosistem.

Munawar berkata bila harimau aman dari kepunahan maka kondisi hutan akan terjaga dan seimbang. "Harimau membantu terjaganya kesehatan sistem ekologi," katanya.

Jangan lupakan bahwa hutan juga memiliki fungsi sebagai daerah tangkapan air dan paru-paru dunia yang sangat dibutuhkan manusia.



Close Ads X