Zulfakriza Z
Peneliti/Dosen
Dosen Teknik Geofisika, FTTM - ITB | Peneliti pada  Kelompok Keahlian Geofisika Global - FTTM - ITB | Pengurus/Anggota Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) 

Gempa Taiwan dan Pembelajaran Mitigasi Gempa di Indonesia

Kompas.com - 25/02/2018, 15:48 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Sama halnya seperti Taiwan, Indonesia juga merupakan negara yang sering dilanda musibah gempa. Indonesia dan Taiwan adalah negeri yang dilewati cincin api (ring of fire).

Dalam dua dekade terakhir, ada banyak kejadian gempa merusak yang melanda Indonesia, beberapa di antaranya membangkitkan gelombang tsunami. Seperti yang terjadi di Aceh 2004, Pangandaran 2006, dan Mentawai 2010.

Gempa Taiwan 2018 tentu memberikan pembelajaran penting bagi upaya mitigasi gempa di Indonesia. Tentu masih segar dalam ingatan kita tentang gempa bumi yang terjadi di Pidie Jaya pada 7 Desember 2016.

Gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 6,5 itu mengakibatkan korban meninggal mencapai 104 orang. Sedangkan gempa Taiwan 2018 korban meninggal 17 orang, dengan kekuatan gempanya magnitudo 6,4.

Menjadi perhatian bagi kita, bahwa masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk mengurangi dampak risiko gempa bumi di Indonesia. Baik dari sisi pendidikan, sosialisasi, regulasi, infrastruktur dan penelitian.

Penelitian tentang kegempaan merupakan bagian dari langkah mitigasi dan pengurangan risiko akibat gempa. Pemahaman yang lebih baik terhadap struktur dan tatanan tektonik menjadi informasi awal untuk mengenali sumber gempa bumi.

Keberadaan sesar aktif, kedalaman sumber gempa bumi serta laju geser pergerakan sesar aktif menjadi informasi penting untuk menyusun peta bahaya gempa bumi.

Penelitian-penelitian yang berkaitan dengan gempa bumi banyak dilakukan oleh institusi penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia. Sebagian besar dari hasil penelitian tersebut sudah didokumentasikan dan dipublikasi pada jurnal ilmiah dengan reputasi yang baik.

Tahun 2017 lalu, Pusat Studi Gempa Nasional (PusGeN) di bawah koordinasi Kementerian PUPR mengeluarkan Peta Bahaya Gempa Indonesia 2016.

Peta ini merupakan pemutakhiran dari peta sebelumnya yang dikeluarkan pada tahun 2010. Peta Bahaya Gempa Indonesia disusun berdasarkan hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa lembaga, seperti LIPI, BMKG, ITB, Badan Geologi, UGM dan PUPR.

Kehadiran Peta Bahaya Gempa Indonesia akan menjadi acuan dalam pembangunan bangunan dan infrasruktur dengan memperhitungkan dampak goncangan yang dihasilkan akibat gempa bumi.

Harapannya, kita bisa terus belajar dari setiap kejadian gempa bumi dan berusaha untuk mengurangi dampak risiko yang mungkin terjadi. Penelitian yang terpadu dan berkesinambungan adalah salah satu cara untuk menuju harapan itu.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.