Kompas.com - 21/02/2018, 07:09 WIB
Ikan tombak dengan akumulasi mikroplastik yang didapatkan dari ikan perch, makanannya. Oona Lo?nnstedt/ScienceIkan tombak dengan akumulasi mikroplastik yang didapatkan dari ikan perch, makanannya.

KOMPAS.com -- Tanpa sadar, manusia berkontribusi pada kehancuran biota laut. Manusia menyumbang sampah plastik yang memenuhi dan pecah menjadi mikroplastik. Saking kecilnya, mikroplastik mampu menembus peredaran darah para hewan yang tinggal di laut.

Untuk itu, Reza Cordova, peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI) akan melakukan penelitian lebih lanjut hingga tahun 2019 mengenai pengaruh mikroplastik pada biota laut, lingkungan, serta pada kesehatan manusia.

“Disadari atau tidak, 78 juta plastik yang digunakan manusia ujung-ujungnya masuk ke laut. Padahal, laut itu merupakan kawasan terluas di bumi, yakni 70 persennya,” ujar Reza ditemui dalam acara pembukaan Oceanography Science Week 2018 di Gedung P2O LIPI Jakarta pada Selasa (20/2/2018).

Sampah plastik yang tidak didaur ulang akan terpecah menjadi kepingan kecil berukuran kurang dari lima millimeter. Inilah yang dinamakan mikroplastik. Plastik berubah menjadi serpihan, sebut Reza, karena faktor panas, gelombang, sinar ultraviolet, dan peran bakteri.

Baca juga : Mikroplastik Membunuh Ikan Sebelum Sempat Kawin

Ada banyak hewan yang menjadi korban mikroplastik, termasuk penyu.

Penyu tidak mempunyai kemampuan untuk membedakan ubur-ubur sebagai makanannya dengan plastik. Akibatnya, saluran pencernaan akan kacau karena usus terobek plastik dan penyu terancam mati, kata Reza.

“Kalau mikroplastik masuk ke otak hewan laut, perilaku hewan tersebut akan terganggu. Pernah ditemukan kasus ikan mengidap tumor setelah menelan mikroplastik,” kata Reza menegaskan bahaya mikroplastik.

Kendati tingkat mikroplastik yang tertinggal di lautan Indonesia hanya 30-960 partikel per liter, Reza tetap meminta masyarakat tidak mengesampingkan dampak bahaya dari kepingan plastik kecil itu.

Baca juga : Makin Mengerikan, Tiap Tahun 1.000 Penyu Mati akibat Sampah Plastik

Dia bersama LIPI akan serius mengkaji dampak mikroplastik. Tujuannya agar masyarakat segera sadar untuk meninggalkan pemakaian plastik.

Kandungan mikroplastik di Indonesia diketahui setelah Reza dan timnya mendata 12 wilayah perairan di Indonesia selama kurun waktu 2015 hingga 2017. Wilayah yang dipilih, menurut Reza, telah mewakili persebaran daerah barat dan timur Indonesia.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gempa Talaud Hari Ini Sudah 9 Kali Susulan, BMKG Tegaskan Bukan Gempa Megathrust

Gempa Talaud Hari Ini Sudah 9 Kali Susulan, BMKG Tegaskan Bukan Gempa Megathrust

Fenomena
Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Fenomena
Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Oh Begitu
Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Oh Begitu
Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Oh Begitu
Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Kita
Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

Oh Begitu
Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Oh Begitu
Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Fenomena
Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Fenomena
Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Kita
Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Prof Cilik
Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Kita
Matahari akan Terbenam Lebih Lambat di Indonesia Akhir Januari 2022, Ada Apa?

Matahari akan Terbenam Lebih Lambat di Indonesia Akhir Januari 2022, Ada Apa?

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.