Kondom Gratis di Olimpiade, Buktikan Seks Tak Pengaruhi Performa Atlet

Kompas.com - 09/02/2018, 21:05 WIB
Perhelatan akbar pesta olahraga musim dingin, Olimpiade 2018 akan dilangsungkan di Pyeongchang, Korea Selatan, pekan depan. AFP PHOTOPerhelatan akbar pesta olahraga musim dingin, Olimpiade 2018 akan dilangsungkan di Pyeongchang, Korea Selatan, pekan depan.

KOMPAS.com - Setiap tahun, panitia penyelenggara olimpiade selalu membagikan kondom gratis kepada atlet, jurnalis, dan semua orang yang terlibat dalam gelaran akbar tersebut. Salah satu alasan panitia adalah mencegah penyebaran penyakit menular seksual.

Bahkan, tahun ini, 110.000 kondom gratis disiapkan untuk gelaran olimpiade Pyeongchang tahun ini.

Namun yang jadi pertanyaan kemudian adalah, apakah hubungan seksual pada malam sebelum bertanding adalah ide bagus untuk para atlet?

Mitos tentang larangan melakukan hubungan seksual sebelum pertandingan ternyata telah ada sejak jaman Yunani dan Romawi Kuno. Mulanya hal ini dikarenakan anggapan bahwa para atlet harus berkorban untuk menjadi yang terbaik.

Baca juga: Atlet Perlu Pantang Berhubungan Seks Sebelum Bertanding?

Anggapan lainnya menyebut bahwa para atlet memerlukan banyak hormon pria (testosteron) karena hormon tersebut membuat mereka lebih agresif. Inilah yang kemudian membuat seks sebelum bertanding adalah ide yang buruk.

Ternyata, hal tersebut hanyalah mitos belaka. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Physiology pada 2016 memberikan fakta yang berbeda.

Penelitian tersebut melibatkan sejumlah orang yang diminta untuk melakukan hubungan seksual sebelum berolahraga. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah kekuatan mereka berkurang sebelum atau sesudah hubungan seksual.

Hasilnya, tidak ada dampak langsung aktivitas seksual terhadap performa atletik dan kekuatan para atlet.

Dilansir dari US News, Rabu (07/02/2018), Dr Lauren Streicher, direktur medis di Northwestern Medicine's Center for Sexual Medicine and Menopause yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut juga mengatakan bahwa tidak ada satu studi pun yang menunjukkan dampak pada aktivitas seksual dan performa atletik.

Meski begitu, Streicher memberikan pengecualian jika para atlet tersebut tidak mendapatkan tidur nyenyak karena seks. Dengan kata lain, masalahnya ada pada kurang tidur.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber CNN,US News
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X