Kompas.com - 03/02/2018, 21:10 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Polusi udara tidak termasuk dalam daftar penyebab kematian yang dicantumkan petugas medis pada sertifikat kematian. Namun, polusi udara telah dihubungkan dengan penyakit emfisima dan kanker paru-paru.

Menurut data dari University of Washington’s Institute for Health Metrics and Evaluation, polusi udara bertanggung jawab atas 6,1 juta kematian dan hampir 12 persen dari kematian global pada 2016.

“Pencemaran udara adalah salah satu pembunuh terbesar pada zaman kita,” ujar Philip Landrigan dari Sekolah Kedokteran Ichan di Gunung Sinai dalam artikel yang terbit di jurnal kesehatan Lancet.

Barry Levy, asisten profesor kesehatan masyarakat di Tufts University School of Medicine, juga menambahkan bahwa ada sejumlah besar data yang menghubungkan polusi luar dan dalam ruangan dengan berbagai masalah kesehatan; termasuk penyakit akut dan kronis, serta kematian.

Baca juga : Potret Kehidupan di Kota yang Udaranya Bisa Membunuh Manusia

Dari 6,1 juta kematian akibat pencemaran udara, 4,1 juta disebabkan oleh polusi udara luar. Sumbernya adalah kendaraan, sisa pembakaran pembangkit listrik, dan pabrik baja.

Sementara itu, pencemaran udara dalam ruang atau di rumah tangga menjadi persoalan mendesak bagi negara berpendapatan rendah. Pasalnya, aktivitas memasak dan memanaskan ada di dalam rumah. Kematian akibat polusi udara dalam ruangan mencapai 2,6 juta per tahun.

Dikarenakan polusi udara dapat menyeberang ke wilayah lain, tidak ada satupun negara yang mampu menyelesaikan persoalan ini sendiri. Polusi udara di China telah dikaitkan dengan kematian 3.100 warga Amerika Serikat dan Eropa Barat pada tahun 2007.

Pada tahun yang sama, 110.000 kematian di China dihubungkan dengan polusi akibat konsumsi Amerika Serikat dan Eropa Barat.

Baca juga : PBB Beri Peringatan Dampak Polusi Udara pada Otak Anak

“Polusi udara dapat berhembus jauh dan menyebabkan dampak kesehatan bagi wilayah yang terkena tiupan anginnya,” sebut Qiang Zhang, peneliti di Universitas Tsinghua di Beijing.

Perubahan iklim akan memicu sejumlah masalah kesehatan masyarakat, termasuk kematian akibat panas dan dingin. Risiko penyakit dan masalah kesehatan mental akibat perubahan iklim dan cuara ekstrem juga ikut meningkat.

Lalu, perubahan iklim juga ditemukan turut menyumbang terhadap kemunculan polusi udara. Suhu yang lebih panas menaikkan risiko kebakaran hutan, lantas menimbulkan polusi udara.

Selain itu, ozon di permukaan tanah turut bertambah. Ozon inilah yang menyebabkan asap perkotaan, yang memicu masalah kesehatan seperti nyeri dada, iritasi tenggorokan dan pembengkakan paru-paru, menurut Environmental Protection Agency.

Organisasi lokal, nasional, dan antar pemerintah mesti sama-sama memikirkan untuk menyelesaikan permasalahan polusi udara. “Polusi udara tidak memandang batasan politik,” ujar Kirk Smith, seorang profesor kesehatan lingkungan global di University of California.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Peneliti Amerika Serikat Temukan Pengobatan Potensial Diabetes Tipe 1, Seperti Apa?

Peneliti Amerika Serikat Temukan Pengobatan Potensial Diabetes Tipe 1, Seperti Apa?

Oh Begitu
4 Cara Efektif Menurunkan Berat Badan dengan Bersepeda

4 Cara Efektif Menurunkan Berat Badan dengan Bersepeda

Kita
Wahana Antariksa Voyager 1 Kirim Data Misterius, Bikin Ilmuwan Bingung

Wahana Antariksa Voyager 1 Kirim Data Misterius, Bikin Ilmuwan Bingung

Oh Begitu
Studi: Lumba-lumba Gunakan Terumbu Karang untuk Obati Penyakit Kulit

Studi: Lumba-lumba Gunakan Terumbu Karang untuk Obati Penyakit Kulit

Oh Begitu
WHO Laporkan Cacar Monyet Sudah Teridentifikasi di 12 Negara, Mana Saja?

WHO Laporkan Cacar Monyet Sudah Teridentifikasi di 12 Negara, Mana Saja?

Kita
Temuan Batu Alien di Mesir, Peneliti Sebut Berasal dari Supernova Langka

Temuan Batu Alien di Mesir, Peneliti Sebut Berasal dari Supernova Langka

Oh Begitu
Asteroid Sebesar Empat Kali Gedung Empire State Melesat ke Arah Bumi pada 27 Mei 2022

Asteroid Sebesar Empat Kali Gedung Empire State Melesat ke Arah Bumi pada 27 Mei 2022

Fenomena
5 Minyak Terbaik untuk Kesehatan, Salah Satunya Minyak Zaitun

5 Minyak Terbaik untuk Kesehatan, Salah Satunya Minyak Zaitun

Oh Begitu
Ikan Pari Manta, Ikan Pari Terbesar di Dunia yang Terancam Punah

Ikan Pari Manta, Ikan Pari Terbesar di Dunia yang Terancam Punah

Oh Begitu
Studi Ungkap Sebelum Dikorbankan untuk Persembahan Dewa, Anak Suku Inca Diberi Obat Halusinasi

Studi Ungkap Sebelum Dikorbankan untuk Persembahan Dewa, Anak Suku Inca Diberi Obat Halusinasi

Oh Begitu
Perubahan Iklim Bikin Jam Tidur Terganggu, Kok Bisa?

Perubahan Iklim Bikin Jam Tidur Terganggu, Kok Bisa?

Fenomena
CDC Ungkap Bukti Infeksi Adenovirus Sebabkan Hepatitis Akut Misterius pada Anak

CDC Ungkap Bukti Infeksi Adenovirus Sebabkan Hepatitis Akut Misterius pada Anak

Oh Begitu
Mengidolakan Berlebih, Bisa Jadi Tanda Hubungan Parasosial

Mengidolakan Berlebih, Bisa Jadi Tanda Hubungan Parasosial

Kita
5 Penyakit Ginjal yang Paling Umum, Salah Satunya Batu Ginjal

5 Penyakit Ginjal yang Paling Umum, Salah Satunya Batu Ginjal

Kita
6 Cara Mencegah Kanker Usus seperti yang Diidap Achmad Yurianto Sebelum Meninggal Dunia

6 Cara Mencegah Kanker Usus seperti yang Diidap Achmad Yurianto Sebelum Meninggal Dunia

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.