Kompas.com - 22/01/2018, 21:50 WIB
Para tentara yang lari pagi, meskipun kabut asap menyeliputi Bukit Raisina ARKO DATTO, NATIONAL GEOGRAPHICPara tentara yang lari pagi, meskipun kabut asap menyeliputi Bukit Raisina
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com – Pada bulan November 2017, fotografer National Geographic Arko Datto tiba di New Delhi, India, dengan sambutan kualitas udara yang berkisar antara “buruk” hingga “sangat buruk”.

Dilansir dari National Geographic, Jumat (19/1/2018), Datto menulis bahwa udara Delhi merupakan campuran dari asap dan polusi yang dihasilkan oleh pembakaran liar, pabrik-pabrik, mobil, dan bahkan mercon yang dinyalakan oleh para partisipan festival Diwali.

Kualitas udara ini membuat Datto yang bekerja di luar ruangan mengalami sakit di bagian dada dan pusing. “Ketika kembali dari tempat-tempat konstruksi dan pinggiran sungai Yamuna, aku seringkali batuk-batuk dan mengeluarkan lendir kehitaman,” tulis Datto.

Baca juga : Pagi Ini, New Delhi Diselimuti Asap Polusi Terburuk

Namun, apa yang Datto rasakan tidak ada apa-apanya dengan yang dialami penduduk Delhi seminggu sebelumnya ketika kabut asap menyelimuti kota tersebut.

Tingkat polusi partikel (Particulate matter) di Delhi tercatat mencapai 999, batas maksimal yang bisa dibaca oleh mesin, pada awal November 2017. Saking beracunnya, Ketua Menteri Delhi Arvind Kejriwal bahkan menyamakan kota tersebut dengan ruang gas Hitler.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dari cerita yang didapat oleh Datto, para penduduk Delhi merasa mual, sakit tenggorokan, dan mengalami iritasi mata. Memakai masker pun menjadi suatu kewajiban dalam melindungi paru-paru mereka.

“Masyarakat (Delhi) meyakini bahwa tinggal di Delhi mengurangi usia hidup seseorang hingga empat tahun,” tulis Datto.

Baca juga : PBB Beri Peringatan Dampak Polusi Udara pada Otak Anak

Berikut adalah foto-foto Datto selama berada di Delhi:

Udara Delhi yang begitu buruk pada awal November 2017 membuat aktivitas olahraga semacam ini disebut berbahaya.ARKO DATTO, NATIONAL GEOGRAPHIC Udara Delhi yang begitu buruk pada awal November 2017 membuat aktivitas olahraga semacam ini disebut berbahaya.

Udara Delhi yang begitu buruk pada awal November 2017 membuat aktivitas olahraga semacam ini disebut berbahaya.

Seorang wanita muda memakai masker ketika berjalan-jalan di Taman Lordi pada pagi hariARKO DATTO, NATIONAL GEOGRAPHIC Seorang wanita muda memakai masker ketika berjalan-jalan di Taman Lordi pada pagi hari

Seorang wanita muda memakai masker ketika berjalan-jalan di Taman Lordi pada pagi hari.

Asap membumbung tinggi dari sebuah pabrik dia area industri Sahibadab, pinggiran DelhiARKO DATTO, NATIONAL GEOGRAPHIC Asap membumbung tinggi dari sebuah pabrik dia area industri Sahibadab, pinggiran Delhi

Asap membumbung tinggi dari sebuah pabrik dia area industri Sahibadab, pinggiran Delhi.

Para pekerja migran yang hidup di sekitar lokasi konstruksiARKO DATTO, NATIONAL GEOGRAPHIC Para pekerja migran yang hidup di sekitar lokasi konstruksi

Para keluarga migran yang hidup di sekitar lokasi konstruksi paling berisiko terkena dampak dari tingginya polusi dan debut karena tidur di luar ruangan. "Kebanyakan dari orang-orang ini yang aku wawancarai tidak mampu membeli masker maupun benar-benar mengetahui apa yang mereka butuhkan," tulis Datto.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pertolongan Pertama yang Benar untuk Pasien Henti Jantung

Pertolongan Pertama yang Benar untuk Pasien Henti Jantung

Oh Begitu
3 Dosis Vaksin Covid-19 Tingkatkan Kekebalan Penerima Transplantasi Organ, Studi Jelaskan

3 Dosis Vaksin Covid-19 Tingkatkan Kekebalan Penerima Transplantasi Organ, Studi Jelaskan

Fenomena
Robot Ini Diluncurkan untuk Selidiki Kehidupan Misterius Laut Dalam

Robot Ini Diluncurkan untuk Selidiki Kehidupan Misterius Laut Dalam

Fenomena
T-rex Remaja Disebut Jadi Penyebab Punahnya Dinosaurus Ukuran Sedang

T-rex Remaja Disebut Jadi Penyebab Punahnya Dinosaurus Ukuran Sedang

Fenomena
Banyak Anak Usia 0-18 Tahun di Indonesia Tertular Covid-19, Begini Saran IDAI

Banyak Anak Usia 0-18 Tahun di Indonesia Tertular Covid-19, Begini Saran IDAI

Oh Begitu
7 Makanan Terbaik untuk Kesehatan Paru-paru, Bit hingga Tomat

7 Makanan Terbaik untuk Kesehatan Paru-paru, Bit hingga Tomat

Oh Begitu
Efektivitas Vaksin Covid-19 Melawan Virus Corona Varian Delta

Efektivitas Vaksin Covid-19 Melawan Virus Corona Varian Delta

Oh Begitu
5 Hal Penting yang Harus Diketahui tentang Covid-19 pada Anak

5 Hal Penting yang Harus Diketahui tentang Covid-19 pada Anak

Kita
7 Makanan untuk Kesehatan Jantung, Ada Sayuran hingga Ikan

7 Makanan untuk Kesehatan Jantung, Ada Sayuran hingga Ikan

Oh Begitu
Peneliti Temukan Fosil Mamalia Darat Terbesar di Dunia, Seperti Apa?

Peneliti Temukan Fosil Mamalia Darat Terbesar di Dunia, Seperti Apa?

Oh Begitu
Kondisi Pandemi Covid-19 di Indonesia Mengkhawatirkan, Ini 5 Rekomendasi Organisasi Profesi Dokter

Kondisi Pandemi Covid-19 di Indonesia Mengkhawatirkan, Ini 5 Rekomendasi Organisasi Profesi Dokter

Oh Begitu
Waspada Potensi Gelombang Sangat Tinggi hingga 6 Meter di Perairan Jawa Timur

Waspada Potensi Gelombang Sangat Tinggi hingga 6 Meter di Perairan Jawa Timur

Oh Begitu
4 Hal yang Harus Dilakukan Saat Keluarga Isolasi Mandiri di Rumah

4 Hal yang Harus Dilakukan Saat Keluarga Isolasi Mandiri di Rumah

Kita
Ahli Jelaskan 5 Alasan Situasi Pandemi Covid-19 di Indonesia Saat Ini Mengkhawatirkan

Ahli Jelaskan 5 Alasan Situasi Pandemi Covid-19 di Indonesia Saat Ini Mengkhawatirkan

Oh Begitu
13 Gejala Covid-19 pada Anak, Demam hingga Nafsu Makan Turun

13 Gejala Covid-19 pada Anak, Demam hingga Nafsu Makan Turun

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X